Featured Post

Terapi Nebulizer Untuk Penderita Asma

“Akhir-akhir ini asmaku sering kumat” kata suami pada suatu hari. Suami saya terkena penyakit asma semenjak kecil, sekitar kelas ti...

Sabtu, 21 Januari 2017

Sedekah Tanpa Harta

Akhir-akhir ini saya suka mendengarkan ceramah ustad Khalid Basalamah via youtube. Awalnya suami sih yang hobbi dengerin. Kalo ada yang pas dengan kondisi kami dia suka kasih link nya supaya saya ikut mendengarkan.

Ternyata ceramahnya bagus juga. Penyampaiannya enak didengar, lugas, tegas, ngga niat melucu tapi kadang ya terasa lucu juga.

Salah satu ceramah yang saya dengar adalah tentang resep kaya. Katanya bukan menabung yang membuat kita kaya, tapi sedekah. Ya sedekah pangkal kaya.




Orang yang nabung akan sibuk dengan tabungan, mengejar nominal tertentu, yang semakin hari tentu targetnya akan semakin dinaikkan. Dan kalau sudah begitu pasti rasanya akan berat untuk bersedekah karena nanti tabungannya akan berkurang.

Minggu, 08 Januari 2017

Terapi Nebulizer Untuk Penderita Asma


“Akhir-akhir ini asmaku sering kumat” kata suami pada suatu hari.

Suami saya terkena penyakit asma semenjak kecil, sekitar kelas tiga SD ia divonis dokter terkena asma. Kalau menurut cerita ibunya, awal mula dia terkena sesak napas karena sering main di sebuah rumah yang sedang dalam proses pembangunan yang mana di sana debunya banyak sekali.

Penyakit asma suami sewaktu kecil bisa dibilang cukup parah, sehingga ia rutin minum obat. Kalau lupa minum obat sebelum tidur, katanya, dia bisa tiba-tiba sesak di tengah tidurnya, dan rasa-rasanya itu bercampur dengan mimpinya. Hih syerem ya.

Setelah dewasa penyakit asmanya berangsur membaik. Seingatnya, asmanya mulai jarang kambuh semenjak ia ikut bela diri yang ada latihan pernapasannya. Kadang memang sesekali kambuh dan biasanya ia redakan dengan ventolin semprot sudah cukup membantu.“Akhir-akhir ini asmaku sering kumat” kata suami pada suatu hari.

Jumat, 06 Januari 2017

JNE Ngajak Jalan Media dan Blogger ke Pulau Nusa Lembongan Bali


Rasa-rasanya tidak percaya ketika menerima telepon dari JNE, yang mengatakan bahwa saya masuk nominasi 5 blogger top contributors JNE dan berhak ikut event #JNENgajakJalan ke Pulau Lembongan Bali.

Hah really? Emangnya saya udah pernah nulis apa aja tentang JNE? Itu juga mungkin yang menjadi pertanyaan beberapa orang yang penasaran kok bisa JNE Ngajak Jalan si Rahmi?

Saya sampai ngga berani cerita ke orang-orang perihal liburan ke Nusa Lembongan ini, apalagi nyetatus pamer-pamer, takutnya ternyata saya cuma mimpi #halah, atau si JNE salah menelepon orang hahaha.

Saya cuma bilang ke anak-anak, suami sama ibu mertua aja yang sekiranya nanti akan ditititipi bocah kalo beneran saya jadi ke Bali.

Tapi keraguan saya sirna, ketika di acara JNE Media&Blogger Gathering tanggal 22 November di Jakarta, seorang teman mengabarkan saya terpilih menjadi salah satu dari 3 blogger yang mendapat plakat top contributor, dan beneran bakal diajak jalan ke Pulau Nusa Lembongan Bali.

Dapet iniiih, terharuuuu

Sabtu, 31 Desember 2016

Tentang Perjalanan Ngeblog 2016

Bismillahirrohmanirrohim, assalamualaikum temans :)

Melihat beberapa postingan teman yang bercerita tentang perjalanan blogging 2016, saya kok jadi kepikiran untuk bikin juga. *dasar kere-atif!* >.<



Apalagi saya merasa perjalanan ngeblog 2016 saya ini cukup berwarna. Ngga melulu cuma nulis, bikin postingan berbayar terus dapet duit, tapi ada jalan-jalannya, dan tantangan baru juga.

Tahun 2016 awal sebenarnya saya mendapat kabar yang kurang menyenangkan, kontrak blog rahmiaziza.com dengan salah satu brand akan berakhir di bulan Februari 2016. Tentu saja saya sedih, ada sedikit perasaaan, terus selanjutnya penghasilan saya dari mana? Tapi buru-buru saya tepis perasaan itu. Rejeki datangnya dari Alloh, bukan dari perusahaan anu, atau brand itu.

Tapi dibalik satu kesedihan ada banyak kebahagiaan yang Alloh berikan.

Sabtu, 24 Desember 2016

Kereta Api Ekonomi Brantas vs Kerta Jaya

Awal Desember kemarin saya sekeluarga beserta papa Ibu ke Jakarta, menghadiri pernikahan sodara.

Pada waktu ke Jakarta kemarin saya sudah bertekad untuk menggunakan transportasi yang semurah-murahnya demi pengiritan.

Demi itu saya instal semua aplikasi ojek motor dan mobil online masa, mulai dari gojek, uber, dan go-car. Kalau mau pergi cek dulu di semua aplikasi yang paling murah mana, itu yang dipake hahaha.

Begitupun dengan kereta api. Niatnya naik kereta api Brantas saja, yang murah meriah per-seat hanya Rp.84.000. Untuk berangkat kami fix pakai kereta api brantas. Berangkat pukul 19.30 dari Semarang, sampai Jakarta sekitar jam setengah tigaan. Tapi untuk pulang kami urung menggunakan Brantas, karena ternyata Papa dan Ibu mau pulang naik kereta aja. Rencana awal kan mereka naik pesawat.

di Stasiun Semarang Tawang


Pikir-pikir, kalo naik Brantas, sampai Semarang udah jam 10an, terlalu malam. Kasian Papa sama ibu. Berangkatnya juga jam empat sore, terlalu sore. Lah habis check out dari hotel masa kami mau terkatung-katung di jalanan #ekstrem.

Awalnya berniat naik eksekutif yang harga tiketnya Rp.220.000, tapi.. tapiii, kok mahal yaa, hahaha...

Akhirnya kami putuskan untuk naik kereta jam dua siang saja. Kereta api ekonomi Kerta Jaya tiketnya Rp 120.000. Pas kan, jam 12 siang check out, menuju stasiun, bisa maksi dulu sambil nunggu kereta datang.

Saya penasaran juga sih, kereta api sama-sama ekonomi kok harganya beda yang membedakan apa? Selama ini kereta ekonomi yang saya tumpangi baru Brantas makanya pengen ngerasain naik kereta ekonomi lain.

Lagipula kalau naik kereta api ekonomi kan bisa pilih yang enam kursi saling berhadapan, jadi enak bisa ngobrol seru berenam, beda dengan eksekutif yang kursinya dua-dua menghadap depan semua.

Bisa rumpi berenam :)