Rabu, 10 Oktober 2018

Transportasi Umum Semakin Nyaman Untuk Perempuan, Ayo Naik Bus!

Semenjak kecil, saya terbiasa kemana-mana menggunakan transportasi umum. Mulai dari ke sekolah, sampai jalan-jalan bersama keluarga. Pahit manisnya naik kendaraan umum udah banyak saya rasakan. Manisnya dulu ya.. Jaman SD pernah naik angkot yang kernetnya baik hati, saya naik angkotnya gratis. Kalo naik bus, pas sesak, banyak yang ngga kebagian kursi termasuk saya. Saat ada yang mau turun, si kernet cepat-cepat mencolek saya untuk duduk di kursi itu.



Kalo pahitnya? Duluu jaman transportasi umum belum seramai sekarang, saya yang masih SD ini suka ditolak-tolak ma angkot. Iyaa anak sekolah kan bayar angkotnya murah, mungkin mereka lebih memilih penumpangnya orang umum yang tarifnya bisa dua kali lipat bahkan lebih. Perna juga ibu saya kecopetan waktu naik angkot bareng saya, dan satu lagi yang bikin traumatik. Pelecehan Seksual.

Kejadiannya udah lama sih jaman saya masih SD. Di angkot yang sebenarnya masih lapang ada bapak-bapak duduknya kok mepet-mepet. Kemudian tangannya di selipkan ke bawah (maaf) pantat saya. Saya sih diem aja tapi berusaha menyingkirkan tangan sesebapak. Karena mau teriak takut dan mungkin juga malu.

Saya ternyata tidak sendiri, banyak orang, terutama perempuan yang juga pernah mengalami pelecehan seksual, bahkan di tempat ramai seperti transportasi umum sekali pun seperti yang saya alami.



Seorang kerabat  (tidak saya sebut namanya ya) pernah pulang ke rumah nangis-nangis. Usut punya usut, di angkot dia bertemu exhibisionis yang menunjukkan kemaluannya. Di angkot mennn, yang penumpangnya cukup rame, ngga cuma berdua doang. Kejadian itu cukup traumatik bagi dia sehingga ngga berani lagi pulang malam naik kendaraan umum sendirian. Kenapa pulang malam? Mungkin ada yang mempertanyakan, soalnya dia les bahasa Inggris dari sore samai malam, dan tempat lesnya lumayan jauh dari rumah.

Bukan bermaksud bias gender yah, tapi memang faktanya, perempuan kerap kali dianggap sebagai makhluk lemah yang mudah untuk dijadikan objek pelecehan fisik (physical harassment).

Dilansir dari artikel Magdalene.co, hasil studi audit keamanan di tiga wilayah Jakarta yang dilakukan oleh Badan PBB untuk kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan (UN Women) menunjukkan bahwa perempuan dan anak perempuan tidak merasa aman bepergian sendiri – terutama di ibukota, karena lebih rentan menjadi korban pelecehan dan kekerasan seksual di tempat umum, termasuk transportasi publik.

Sementara itu, sebuah jajak pendapat yang digagas Thomson Reuters Foundation News mengungkapkan daftar 16 kota dengan sistem transportasi paling berbahaya untuk perempuan. Survei terhadap lebih dari 6.550 perempuan, pakar gender dan perencanaan kota digelar di 15 dari 20 ibukota terbesar dunia. Pertanyaan diajukan kepada mereka yang bepergian sendiri di malam hari, berisiko dilecehkan secara verbal atau fisik, percaya bahwa penumpang lain akan membantu seorang perempuan jika dilecehkan, percaya bahwa pihak berwenang akan menyelidiki laporan tentang pelecehan atau kekerasan, dan ketersediaan transportasi umum yang aman.

Ibukota negara kita, Jakarta mendapat urutan ke lima dari daftar 16 kota dengan sistem transportasi paling berbahaya untuk perempuan versi Thomson Reuters Foundation News. Berikut ulasannnya :
Seberapa Anda merasa aman bepergian sendiri pada malam hari di kota tempat tinggal Anda?



Apakah Anda pernah dilecehkan secara verbal oleh laki-lakiketika menggunakan transportasi umum?





Apakah Anda pernah diraba atau mengalami bentuk pelecehan fisik lain saat menggunakan transportasi umum?


Seberapa yakin Anda bahwa orang lain akan datang membantu Anda saat ada di transportasi umum?





Seberapa yakin Anda jika pihak berwenang akan menyelidiki jika Anda melaporkan pelecehan atau serangan di transportasi umum?




Setuju atau tidak setuju, transportasi umum yang aman tersedia di tempat Anda tinggal?


Dari data-data tersebut di atas menimbulkan keresahan yang cukup serius. Maka, salah satu hal yang dianggap menjadi solusi pencegahan pelecehan dan kekerasan di transportasi umum adalah pemisah antara laki-laki dan perempuan.

Pada 2011, operator bus Transjakarta meluncurkan fasilitas ruang khusus perempuan. Sebelum menerapkan kebijakan itu, PT Transjakarta telah melakukan survei terhadap penumpang perempuan. Hasil survei menunjukkan, 90% responden menyetujui implementasi kebijakan tersebut. Lima tahun kemudian, pada 21 April 2016, bertepatan dengan hari Kartini, perusahaan ini meluncurkan bus berwarna merah muda yang dikhususkan bagi penumpang perempuan.


Menurut Direktur Operasional Transjakarta, Daud Joseph, penyediaan ruang khusus perempuan di transportasi publik itu sangat penting, mengingat banyaknya laporan-laporan perihal pelecehan dan kekerasan di transportasi umum terhadap kaum perempuan. Menurut surveinya, pelecehan seksual sebagian besar terjadi pada jam-jam sibuk.

Pada awal 2017, jumlah bus bertambah menjadi 1200, atau empat kali lipat dari jumlah bus satu setengah tahun yang lalu yaitu sekitar 300 bus. Berarti ada lebih banyak kesempatan bagi para perempuan merasa nyaman di dalam bus.

Kereta Listrik Jabodetabek atau yang lebih dikenal dengan Commuter Line, bahkan sudah lebih dulu menerapkan gerbong khusus perempuan. Kurang lebih tujuannya sama dengan penerapan hal serupa pada Bus TransJakarta.

Di berbagai negara kebijakan segregasi itu dianggap sebagai satu langkah awal adanya kesadaran bahwa akses perempuan ke transportasi publik memang sulit karena mereka rentan mengalami pelecehan dan kekerasan. Dengan demikian, pemisahan dianggap sebagai solusi cepat, walaupun bukan satu-satunya. 

Karena, pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan itu terjadi bukan hanya karena infrastruktur yang kurang, tapi disebabkan pendekatan hukum dan kebijakan yang kurang merangkul dan kurang tersosialisasi dengan baik. Korban banyak tidak mau melaporkan karena takut disalahkan dan tidak tahu mekanisme pelaporannya. Oleh karena itu, baik laki-laki maupun perempuan, harus lebih resposif dan menjadi active bystander dan tidak diam saja ketika melihat pelecehan atau kekerasan seksual yang terjadi. Pemisahan gender di transportasi publik adalah solusi tapi sifatnya sementara. Di dalam mencapai kesetaraan perempuan dan laki-laki, ada terminologi temporary special measure (tindakan khusus sementara), yang seolah-olah mengeksklusifkan perempuan, tapi tidak boleh dianggap sebagai diskriminasi karena ada hal yang melatarbelakanginya.

Kementerian Perhubungan melalui Badan Pengelolaa Transportasi Jabodetabek sangat konsen pada kenyamanan di transportasi publik, termasuk di dalamnya perhatian khusus pada perempuan dan manula. Kenapa penting, karena target memindahkan orang dari penggunaan kendaraan pribadi ke kendaraan umum, merupakan hal yang mendesak. Tentu kita tahu, kendaraan pribadi memang berkontribusi besar pada kemacetan di Ibukota. 

Bukan hanya di ibukota loh, di Semarang, kota tempat saya tinggal pun, untuk bus Trans Semarang sudah ada pemisahan antara penumpang laki-laki dan perempuan. Kalau kita naik bus Trans, kernetnya otomatis akan mengarahkan, yang laki-laki sebelah kiri, perempuan ke sebelah kanan. Selain itu ada kondisi yang perlu mendapat prioritas dalam mendapatkan kursi penumpang yaitu orang dengan kebutuhan khusus, manula, ibu hamil dan bagi yang membawa anak kecil.

Alhamdulillah saat ini transportasi umum memang semakin nyaman, terutama saya rasakan sebagai perempuan yang risih kalo harus duduk berdeketan apalagi berdesak-desakan dengan laki-laki. Jadi makin suka naik bus, selain nyaman, tarif lebih murah, mengurangi polusi dan kemacetan.

Tugas kita semua sekarang menciptakan transportasi umum yang aman dan nyaman dengan memanfaatkan kebijakan infrastruktur transportasi umum yang ada. Jangan sungkan juga menegur dan melaporkan saat melihat adanya tindak kejahatan termasuk pelecehan atau kekerasan seksual. Ayo naik bus!

Punya cerita tak terlupakan juga saat naik bus, yuk berbagi di kolom komen :)

7 komentar:

  1. alhamdulillah bisa makin nyaman naik bus ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa semakin ada perbaikan layanan di transportasi publik

      Hapus
  2. Sekarang aku kerap naik BRT nya Semarang. Alhamdulillah selama ini oke dan meskipun kadang penuh, petugasnya cukup tegas memisahkan penumpang laki-laki dan perempuan. Jadi berdesakannya nggak ribet.

    BalasHapus
  3. Aku nih pengguna bus dark jaman dulu banget. Ceritanya ya macem2 juga. Ada yg sama kaya mba, di gratisin. Hehe
    Alhamdulillah ngga pernah yg aneh2. Semoga jangan.

    BalasHapus
  4. Ah, saya pun pernah bbrp kali mengalami pelecehan seksual di bus. Hiks. Bersyukur sekarang ada bus khusus perempuan ya

    BalasHapus
  5. Daku pelanggan Trans Semarang bersyukur banget ada bus ini karena murah, nyaman dan aman, aku takut naik bus kota biasa karena biasanya kita belum turun dan naik sempurna eh bus udah jalan, takuut

    BalasHapus
  6. makanya aku senang banget comline di Jakarta punya gerbong khusus wanita, kalau gak kepepet banget selalu memilih tempat khusus wanita di transportasi umum, begitu juga di transjakarta. Relatif lebih aman

    BalasHapus