Saturday, July 6, 2024

Hidup 23 Tahun Bersama Pasangan NPD, Bagaimana Ciri NPD Yang patut Diwaspadai?

Narsisistic Personality Disorder (NPD). Belakangan istilah ini populer dibicarakan di mana-mana, ya. Tahu nggak apa artinya? Apakah orang yang dikit-dikit selfie lantas bisa disebut NPD. Eit tunggu dulu, pengertian NPD tidak sesederhana itu.

NPD merupakan gangguan kepribadian, bahkan bisa disebut salah satu penyakit kejiwaan yang memiliki ciri utama berupa level narsistik berlebihan.

Bersama Kartika Soeminar wanita kuat 23 tahun hidup bersama pasangan NPD

Suka kesel, kan, kalau punya teman over narsis? Pengennya sih menghindar aja, kalaupun terpaksa harus bersinggungan, yaaa seperlunya aja, lah. Lalu bayangkan, bagaimana seseorang yang punya pasangan seorang NPD. Tinggal bersama, ngelihat dia mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Pasti horor banget, kan!

Tapi ternyata, nggak sedikit, lho, yang terjebak dengan pernikahan toksik dengan pengidap NPD. Kartika Soeminar salah satunya. Bahkan ia sanggup bertahan selama 23 tahun hingga akhirnya berani memutuskan untuk bercerai. Wow!

Kartika Soeminar menceritakan kisah hidupnya, 23 tahun bersama suami NPD

Cerita ini saya simak secara langsung Mbak Kartika di event KEB Intimate session bersama Kartika Soeminar, Break The Silence: 23 Years of Narcissistic Abuse Survivor  Sabtu (29/6/2024) kemarin di Hotel Santika Premiere Semarang.

Wanita pengusaha yang lahir di Surabaya 49 tahun silam dan kini berdomisili di Ubud, Bali ini menuturkan, pada awalnya, pasangannya yang merupakan warga negara asing itu adalah seorang yang menyenangkan. Selalu menghujaninya dengan pujian dan hadiah-hadiah. Istilahnya lovebombing. Setelah mereka menikah, sekitar setahun kemudian mulai tampak perilaku tidak menyenangkan dari sang suami, seperti superior, manipulatif dan playing fictim.

Mulanya Mbak Kartika menganggap ini hal biasa, dengan pikiran, nanti juga akan berubah. Namun akhirnya ia tersadar bahwa rumah tangganya tidak sehat. Ia merasakan depresi bahkan berat badannya dan tekanan darahnya sampai turun drastis. Apalagi setelah mendapat berbagai insight. Salah satunya dari seorang kawan baik yang berprofesi sebagai psikolog, tempat ia sering mencurahkan isi hatinya, yang mendiagnosis kalau sang suami mengidap kepribadian NPD.

Bagaimana Gejala NPD dan Menghadapinya?

Psikolog senior sekaligus Kepala Humas Rumah Sakit St.Elisabeth Semarang, Dra.Probowatie Tjondronegoro, M.Si yang juga hadir di acara kemarin menuturkan, NPD bisa disebabkan dari kombinasi faktor genetik, biologis, dan lingkungan, seperti pola asuh yang terlalu memanjakan.

Dra.Probowatie Tjondronegoro, M.Si menjelaskan tentang NPD


Ada tujuh gejala atau ciri NPD yang patut diwaspadai, yaitu:

1. Perasaan grandiositas: Merasa diri sangat penting dan superior dibanding orang lain.

2. Kebutuhan konstan akan pujian

3. Keyakinan bahwa mereka istimewa dan unik

4. Eksploitasi interpersonal

5. Kurangnya empati

6. Iri terhadap orang lain atau percaya orang lain iri terhadap mereka 

7. Perilaku arogan dan sombong

Kalau sekiranya sebagian besar dari ciri-ciri itu ada pada diri kita maupun orang lain, bisa dicurigai orang tersebut pengidap NPD.

Tidak menyia-nyiakan kesempatan bertanya

Tapi jangan lupa, ya, ciri-ciri di atas kadang tertutup dengan prilaku manipulatif seorang NPD. Seperti yang Mbak Kartika tuturkan sebelumnya, bahwa ia awalnya melihat suami (yang saat itu masih berstatus calon) adalah seorang yang menyenangkan dan sangat menyanjungnya. Nah ini yang patut digaris bawahi. Jika ada seorang yang kita rasa berlebihan dalam memuji bahkan memberikan hadiah, jangan buru-buru menaruh kepercayaan. Husnudzon boleh, tapi tetap harus waspada. Ingat, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Logika harus dikedepankan untuk berpikir. Kira-kira ini wajar, nggak sih?

Lantas bagaimana jika dihadapkan dengan orang yang mengidap NPD? Dra. Probowatie mengatakan, kita perlu melakukan pendekatan humanis, yaitu:

1. Menerapkan batasan. Kurangi interaksi dengan mereka, berusalah cuek saat mereka menunjukkan gejala. Ini demi kesehatan mental kita.

2. Afirmasi Positif. Berada satu lingkungan dengan seorang NPD, apalagi jika itu pasangan sendiri, tentu saja akan membuat psikis kita terganggu. Oleh sebab it,u berilah energi positif untuk diri sendiri. Selalu ucapkan kalimat penguat mental, seperti "Saya semakin kuat, saya bisa hadapi semua."

3. Journaling. Ini adalah salah satu terapi yang bisa dilakukan oleh orang yang mau tidak mau harus bersinggungan dengan seorang NPD. Caranya, ambil secarik kertas tidak terpakai, luapkan isi hati kita, selanjutnya robek dan buanglah agar segala sesuatu yang terasa menyesakkan dada turut pergi bersamaan dengan kertas itu.

4. Pendekatan spiritual. Manusia punya keterbatasan, sementara Tuhan adalah yang maha kuasa. Oleh karena itu, tenangkan diri kita dengan lebih mendekatkan diri pada Tuhan dan mohon petunjuk agar dapat menghadapi orang yang NPD.

5. Konsultasi dengan ahli. Level NPD tiap orang itu berbeda. Kita seringkali tidak bisa menyimpulkan sesuatu hanya dari googling, tapi perlu juga  untuk langsung berkonsultasi dengan ahli kejiwaan agar dapat mengetahui lebih lanjut bagaimana sebaiknya menghadapi orang NPD.

Bu Probo mengajarkan cara agar merasa rileks

Apakah NPD Bisa Disembuhkan?

Menurut Ibu Probo, gangguan kepribadian ini memang sulit diobati terutama karena pengidapnya cenderung tidak menyadari dan tidak mau mengakui adanya masalah. Akan tetapi, pemahaman dan pendekatan yang tepat dapat membantu individu mengelola gejalanya.

Pendekatan dalam perawatan NPD bisa dengan psikoterapi yaitu terapi kognitif prilaku, terapi psikodinamik, dan hipnoterapy. Sementara untuk obat, tidak ada obat khusus untuk NPD, tetapi ada obat untuk gejala yang terkait seperti depresi atau kecemasan.

Kampanye #BrokenButUnbroken

Mbak Kartika sadar, bukan hanya dirinya yang mengalami depresi akibat hidup berdampingan dengan pengidap NPD. Oleh sebab itu ia gencar mengkampanyekan #BrokenButUnbroken di beberapa kota salah satunya lewat event #KEBIntimate ini. Ia berharap pengalaman yang dibagikan dapat menginspirasi orang lain dan menumbuhkan kesadaran akan gangguan kepribadian NPD.

Tidak hanya sekedar talkshow di berbagai kota, ia juga dalam waktu dekat akan menerbitkan buku yang merupakan kumpulan dari kegiatan journaling alias menulis catatan harian, yang rajin dilakukannya belakangan berkaitan dengan pengalamannya hidup bersama pasangan NPD.

Selamat Mbak Kartika. Sukses untuk bukunya. Semoga memberikan manfaat kepada lebih banyak orang lagi.

Foto bersama 

5 comments:

  1. Kalo baca ciri2 orang dg gangguan NPD tu kayak aku kok ngerasa kyk gitu ya (kebiasaan bgt mendiagnosa dewe, hihi) semoga aja enggak ding. Semoga kita dijauhkan dari orang2 dg gangguan NPD, aamiin

    ReplyDelete
  2. NPD ternyata ngg bisa disembuhkan ya mbak, hanya busa diminimalisir aja. Jadi yang harus selalu waspada ya orang-orang di sekitarnya.

    ReplyDelete
  3. Sekarang aku kok jadi curiga, apakah ada anggota keluargaku yang punya gangguan NPD ya, apa jangan2 malah aku sendiri yang NPD iiih...amit2, semoga enggak. Semoga kita semua dijauhkan dari gangguan NPD deh, aamiin

    ReplyDelete
  4. Terlalu memanjakan anak ternyata bisa bikin anak jadi kena NPD ya, Mbak. Mbak Kartika 23 tahun hidup dengan pasangan NPD tuh lama ya dan pasti masih membekas banget itu karena 23 tahun bukan waktu yang singkat.

    ReplyDelete
  5. Asli baca postingan ini tuh bikin kita jadi mawas diri sih, apalagi baca kisahnya 23 tahun jadi korban traumanya pasti sangat luar biasa semoga kita dihindarkan dari para NPD aamiin

    ReplyDelete