Rabu, 18 Desember 2013

Membimbing Bukan Berarti Memaksa

“Ayahnya dokter, kok anaknya nggak ada yang jadi dokter?” Begitulah bebeapa orang sering berkomentar tentang keluarga mertua saya.

Ayah mertua saya memang seorang dokter. Tepatnya dokter spesialis Patologi Anatomi, dan belum ada seorang pun dari keempat anaknya yang mengikuti jejak beliau.

Anak sulungnya yang merupakan suami saya, bekerja mandiri sebagai ilustrator. Anak kedua sedang menyelesaikan S2 Arsitektur dan saat ini ikut bekerja bersama suami saya sebagai colorist. Anak ketiganya dalam tahap mengerjakan skripsi nyambi berdagang. Sementara anak keempat masih duduk di bangku SMU, itupun sepertinya tidak menunjukkan ketertarikan untuk menjadi dokter.

Kedua mertua saya bukannya tidak mengharapkan anaknya ada yang menjadi dokter. Ibu mertua pernah cerita langsung pada saya, sebenarnya ingin sekali melihat, minimal ada salah seorang anaknya yang bisa jadi menjadi dokter. Tapi, kalau pada kenyataannya anak sudah punya pilihan hidup lain ya apa boleh buat.

Meskipun sedikit kecewa, tapi mereka tetap mensupport kegiatan anak-anaknya selagi positif.

Ketika sulungnya (saat itu belum menikah dengan saya)  baru merintis usaha jasa ilustrasi bersama teman-temannya, mereka tidak berkeberatan garasi rumah dipinjam sebagai kantor. Setiap hari ramai anak-anak muda berkumpul di sana. Tidak jarang pula ada yang bermalam karena tempat tinggalnya jauh. Meskipun sedikit mengganggu privasi tetapi mereka tetap bersedia menampung.


Ketika mereka mempunyai dana, yang sebenarnya sudah lama dikumpulkan untuk berangkat umroh, justru digunakan untuk membantu merenovasi rumah yang sudah dibeli anak sulungnya agar bisa digunakan sebagai kantor.

Begitupun dukungan mereka terhadap ketiga anaknya yang lain terlihat begitu besar. Pada anak ketiga misalnya, yang sedari dulu kurang dalam hal akademis. Ayah dan Ibu mertua tidak pernah memaksanya untuk ikut les tambahan ini dan itu. Mereka justru berusaha mencari tahu apa yang kira-kira menjadi minat dan bakatnya.

Anak ketiga ini dulu orangnya sangat pasif, lebih banyak bermalas-malasan di rumah dan sulit bergaul dengan orang lain. Suatu hari ayah mertua mengajarinya berbisnis. Beliau mencari pabrik yang memproduksi makanan ringan berupa marning dan emping jagung. Membelinya dalam jumlah yang cukup besar kemudian menyuruh anak ketiganya ini membungkus dalam kemasan kecil lalu menemaninya menawarkan ke kantin-kantin.

Selain itu, ayah mertua juga membuka sebuah gerai jus dan anak ketiganya inilah yang disuruh mengelola. Alhamdulillah, sekarang usaha ini sudah berjalan lancar. Meskipun belum lulus kuliah, ia sudah punya penghasilan bulanan yang lumayan dan begitu menikmati aktivitas barunya.

Sungguh, saya banyak belajar bagaimana menjadi orangtua yang baik dari Ayah dan Ibu mertua. Bahwa kita sebagai orangtua punya tugas membimbing anak menuju masa depan yang lebih baik, tetapi tidak bisa memaksa anak untuk menjadi apa yang kita kehendaki.


****************

Tulisan di atas diterbitkan di majalah Ummi edisi September 2013, rubrik Nuansa Wanita. Alhamdulillah... pecah telur jugaaa. Mudah-mudahan bisa terus produktif nulis di media, dan resolusi tahun depan harus bisa nerbitin buku non fiksi, aamiin.

Temans yang mau kirin tulisan ke media juga, saya rangkum infonya (mulai dari alamat media, sarat dan ketentuan, contoh tulisan, tips) di info media ini yaaa...

13 komentar:

  1. Rahmiiii....
    eciyeeee, artikelnya masuk majalaaah...selamat yaaaah :)

    Setuju banget dengan mertua mu...pengen nya sih bebasin anak2 aja dengan cita citanya...
    Tapi mudah2an aja Fathir nanti cita cita nya jangan jadi anggota boy band lah yaaah...hihihi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahaha kalo Fathir jadi anggota boyband, aku bersedia jadi fans beratnya bi hihihi

      Hapus
  2. congrats mbaa :D
    hmm kalo aku... bapaku wiraswasta, politikus, orang partai. ibuku guru bahasa indonesia. dan hasilnya aku suka baca, nulis, kuliah di FISIP, suka bisnis. full gabungan dari ortu deh mba. hehe... tapi aku ga ngerasa dipaksa. ini kemauanku sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hasil kolaborasi ibu n bapak ya Syifa hehehe

      Hapus
  3. Makasih ya Mba Rahmiii...
    Selamat juga yaaa...
    Btw keren sekali mertuanya Mba Rahmi. Salut sama cara mereka! :)

    BalasHapus
  4. keren nih mak sudah masuk majalah artikelnya, selamat yaaa ;)

    BalasHapus
  5. wah, keren. Selamaat, mbak Rahmi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. masih kalah keren dengan dirimu mbaa :)

      Hapus
  6. wah keren mbak bisa masuk majalah nih tulisannya

    BalasHapus
  7. Jadi ingat .. ibu saya mau sekali ada di antara cucunya yang jadi dokter :))
    Jai dokter itu cita2 terpopuler sepanjang masa :)

    Ibu dan bapak mertua Mbak Rahmi keren, wawasan yang bagus bisa membawa anak2 mereka ke kehidupan yang lebih baik

    BalasHapus