Selasa, 20 Agustus 2019

Memaknai Lakum Diinukum Waliyadiin, Benarkah Ustad Abdul Somad Menista Agama?

Memaknai lakum diinukum waliyadin. Benarkah ustad Abdul Somad (UAS) menista agama? Ini yang lagi ramai di jagad maya ya..

Sebenarnya maju mundur pengen nulis ini, antara gregetan pengen nulis sama takut. Takut apa, takut ada yang tersinggung terutama dalam circle pertemanan saya sendiri.

Di sosmed hampir tiap hari ada yang heboh berganti-ganti. Sampai ngos-ngosan ngikutinya. Baru mau nanggapi soal A yang viral eh belum selesai nulis yang rame ganti kasus B pfiuuuh. Tapi pikir-pikir lagi, tujuan awal saya bikin blog ini kan buat menyuarakan isi hati, mosok isinya paid post melulu #soklaku.



Dulu saya pernah menulis tentang Toleransi Salah Kaprah di Blogdetik, tulisan itu jadi headline, dan ramai ada yang setuju ada yang ngga bahkan sampai mencaci maki. Ngeriii...

Saya menulis tanggapan tentang status seorang kawan. Teman saya ini kerja di salah satu stasiun radio. Nah pas hari raya Islam, saya lupa maulid apa isro mi'raj gitu, bikin acara semacam drama radio, yang nasrani pun ikut mengisi suara di acara tersebut. Kemudian ia menyebut itulah yang disebut toleransi.

Menurut saya bukan, itu bukan toleransi. Justru harusnya jika toleransi, kita menghargai, karena dia nasrani jangan lah diajak untuk produce acara untuk agama Islam. Juga sebaliknya nanti kalo produce acara buat agama nasrani ya yang isi yang beragama nasrani saja.

Jadi temen-temen mohon maaf sebelumnya kalo kita berbeda pendapat ya. Berbeda bukan berarti harus bermusuhan iya kan.

Lakum diinukum waliayadin ada dalam surah Al-Kafirun ayat 5. Yang artinya bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Awal mula turunnya ayat ini yang saya tahu, ada kaum kafir Quraisy berusaha membujuk nabi Muhammad agar mengikuti ajaran mereka. Mereka menawarkkan harta kekayaan sampai sebuah kesepakatan, saling bergantian mengikuti, jadi hari ini nabi ikut menyembah tuhan mereka, dan hari berikutnya gantian mereka yang ikut menyembah Alloh. Maka turunlah ayat ini, nabi kemudian mengatakan kepada kaum kafir, Lakum diinukum waliayadiin. Bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Jadi kita masing-masing ajalah. 

Saat ini lagi rame  tentang ustad Abdul Somad yang mengatakan ada jin kafir dalam patung salib. Saya sudah nonton videonya. Kurang lebihnya gini, ada pertanyaan kenapa tiap memandang patung salib si jamaah ini merasa menggigil hatinya, kemudian UAS menjawab ada jin kafir dalam patung salib. Kenapa bisa masuk jin kafir? Karena ada patung.

Lantas rame dibicarakan mengenai video ceramah ini bahkan ada yang membawanya ke ranah pidana karena dianggap menistakan agama nasrani.

Saya heran dimana letak penistaannya. Saya bilang gini bukan semata-mata karena saya muslim ingin membela UAS. Tapi mencoba bener-bener InsyaAlloh seadil mungkin berpendapat. Saya juga punya banyak teman dekat beragama nasrani dan menyayangi mereka. Mudah-mudahan jika baca ini, kalian tidak tersinggung ya.

Balik lagi soal ceramah UAS, pertama dalam agama Islam memang tegas LARANGAN membuat patung ataupun menyimpan patung untuk sesembahan. Bahkan ada yang berpendapat bukan hanya buat sembahan, patung dengan tujuan apapun kalau menyerupai mahluk bernyawa ciptaan Alloh tidak boleh.

Patung menjadi tempat yang disukai jin pun bukan sesuatu yang baru kita dengar. Bahkan secara umum aja deh, filem-filem horor sering menggunakan patung untuk menambah feel horror dalam tayangannya. Saya mencoba mencari dalil atau hadistnya tentang ini, belum nemu. Yang jelas dalam hadist menceritakan malaikat jibril tidak mau masuk ke sebuah rumah karena terdapat patung di dalamnya.

Ini keyakinan kami, mungkin beda dengan keyakinan umat beragama lain. Kalau menurut saya pemaknaan bagimu agamamu dan bagiku agamaku adalah membiarkan orang lain dengan keyakinannya. Yang penting kita tidak saling mengganggu.

Sayapun ngga akan mempermasalahkan orang yang punya patung di rumahnya, apalagi orang itu berbeda  keyakinan dengan saya. Tapi dalam keyakinan saya tetap membuat atau menyimpan patung yang menyerupai mahluk bernyawa ciptaan Alloh ya tidak boleh.

Jika anak bertanya yang berkaitan tentang aqidah tentu akan saya jawab juga sesuai dengan keyakinan saya. Islam. Dengan keynote tambahan, jangan ngomong begini sama yang beragama lain. Biar aja mereka kan agamanya beda, ajarannya beda. Supaya ngga menimbulkan rasa tidak nyaman.

Sebagai seorang pemuka agama Islam, tentu saja UAS menjawab pertanyaan sesuai rujukan Quran dan hadist. Kemudian ada yang menanggapi: sebenarnya yang anda katakan “jin kafir” dalam iman Kristen, itu adalah roh kudus, yang pasti akan membuat gentar, mereka2 yang hidupnya masih dikuasai kegelapan.

Oke ngga ada masalah itu keyakinan dalam agama mereka. Tapi kan keyakinan kita beda. Masa UAS mau jawab kaya gitu di pengajian. 

Dulu dalam pelajaran PPKn pernah ada guru yang menyampaikan bahwa semua agama sama. kita punya tujuan yang sama tapi caranya aja yang berbeda. Ambil contoh gampang, tujuan kita ke Jakarta ada yang naik bus, ada yang naik kereta, ada yang naik pesawat. Mungkin maksudnya mengatakan itu supaya umat beragama saling rukun tapi salah menurut saya. Udahlah ngga usah nyinggung ranah-ranah keyakinan kecuali untuk kalangan intern ya.

Dalam hal ceramah UAS, itu dilakukan di kalangan intern umat muslim saja. Jadi menurut saya ngga ada masalah. Kalau ada pemuka agama lain ceramah di hadapan jamaahnya mengatakan bahwa umat muslim adalah umat yang tersesat pun, saya rasa wajar. Isi kitabnya mungkin memang begitu.

Kalau ada yang bilang harusnya jawabnya lebih bijak dong, lebih adem, dll. Coba saya dikasih tau kira-kira jawaban yang tepat kaya gimana seandainya kamu yang jadi UAS trus ditanya kaya gini sama jamaahmu? Mungkin bisa jadi rujukan kalo-kalo besok harus menjawab pertanyaan semacam ini.

Akhirul kalam, mungkin teman-teman ada yang tidak sependapat dengan saya, ngga apa-apa, silakan yang mau komen pro maupun kontra kita sampaikan dengan cara yang santun. Kita warga negara Indonesia sudah biasa berbeda, semboyan kita aja berbeda-beda tapi tetap satu, iya kan ;)


10 komentar:

  1. Persis seperti apa yg aku pikirkan. Yang ditekankan itu emang soal patungnya. Mau bentuk apapun itu (bukan cuma patung Yesus).

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah sepemikiran.
    Toleransi bukan berarti mencampuradukkan. Bagi kami agama kami, bagimu agamamu. Masa' sih berdakwah Islam harus dengan cara dan konten sesuai non Islam.

    BalasHapus
  3. Setuju.., aku juga mikir hal sama. Toleransi itu bukan saat lebaran mereka ikut gotong royong dilingkungan masjid, atau orang Islam ikut nyanyi digereja.

    Agama itu butuh keyakinan dalam memeluknya, agama apapun. Tapi kalau semua agama itu sama. Ya udah atheisme aja..kan yg penting baik..

    BalasHapus
  4. Kok saya seneng sih baca tulisan Kakak ini :-)

    BalasHapus
  5. Setuju banget dengan tulisan ini Mbak. Beliau sudah menjawab sesuai ajaran Islam yang kita yakini.

    BalasHapus
  6. Aku setuju dengan tulisan ini, yang aku heran adalah ada yg sesama muslim tapi menganggap UAS salah dan harus dihukum, padahal UAS menjawab sesuai dengan ajaran Islam

    BalasHapus
  7. Saya juga setuju, masing dengan keyakinannya, tidak dicampur adukkan, saya tidak perlu mengikuti mereka, dan mereka tidak perlu mengikuti saya, masing2 saja dengan keyakinannya

    BalasHapus
  8. Aaah... Aku suka mbak... Kemarin Juga gemes Pengen bahas soal ini. Tapi aku terlalu terbawa emosi.. takutnya bikin postingan terlalu baper. Seneng Ada mbak Rahmi yang menyuarakan isi hati.. 😘😘😘

    BalasHapus
  9. Sukaaaa. Setuju bangettt mbak. Soal toleransi pun, kita sepemikiran ❤❤❤ Hari2 ini, makna toleransi sering diplintir-plintir. Hiks

    BalasHapus
  10. Tercerahkan mi, aku hanya dengar ribut-ribut Ustaz dilaporkan, duh sedih banget..semoga masalahnya cepat selesai..

    BalasHapus