Sabtu, 29 September 2018

Traveling Sambil Bekerja Bersama Anak, Siapa Takut?

"Halo mba, kami bermaksud mengundang mba Rahmi untuk stay experience di Hotel kami hari Jumat besok. Apakah Mba Rahmi bersedia?"

 
Beberapa waktu lalu, marcomm dari salah satu hotel di Semarang menghubungi saya, mengundang nginep di hotelnya. Begitu menerima pesannya yang terbayang di benak saya adalah "Waw anak-anak pasti seneng nih diajak nginep di sana." Soalnya beberapa hari sebelumnya saya pernah bareng anak-anak ke hotel itu untuk ketemuan sama mbak marcomm nya ngobrolin tentang event blogger, dan mereka sangat excited ketika melihat taman dengan kolam renang dan kids corner.

Liat kolam rennag dan taman yang luas langsung in action :D

"Mama.... aku mau berenang ya," kata Thifa saat itu, yang tentu saja tidak saya ijinkan karena tidak membawa baju ganti.

"Kalo Sabtu saja gimana mba?" tanya saya pada mba Marcomm mengingat Jumat suami masih kerja, biasanya malam baru pulang. 

"Sabtu ini sudah full book mba," jawab Mba Marcomm. 

Sayapun berdiskusi dengan suami. Kalau check in di Jumat siang, berarti saya hanya berangkat bersama trio bocah saja, ayahnya menyusul ke hotel malamnya. Saya udah bayangin, setelah check in, saya bakalan ketemu dulu sama pihak hotel, setelah itu anak-anak pasti ngajak berenang, dan sesudahnya kami bakal makan malam berempat, disambi motret-motret dan membuat video. Tanpa ayahnya. Sanggup? 

Oke, di bagian ini saya mikir sejenak. Gimanapun bawa tiga anak tanpa orang dewasa lainnya menemani, yang satu bayi dan satunya masih balita pasti akan merepotkan. Apalagi ke hotel untuk menginap bawaan pasti banyak, dan di sana bukan hanya sekedar liburan bersenang-senang tapi juga sambil bekerja. 

Sebelumnya saya udah pernah sih bawa tiga anak menghadiri event blogger tanpa ayahnya. Karena saat itu tema event nya memang melibatkan anak-anak juga. Tapi kan ngga lama yah, cuma beberapa jam saja. 

Untuk traveling sambil bekerja bareng anak-anak yang durasi waktunya lama, sampai nginep udah pernah juga, tapi sebelum Sarah lahir. Jadi hanya bertiga, saya, Thifa dan Hana. Salah satu momentnya saat ngetrip ke Belitung bareng travel blogger tahun 2016 lalu. Saat itu Thifa baru 5 tahun 4 bulan dan usia Hana belum ada tiga tahun. Emang sih tetep ada orang dewasa lain yang saya kenal, yaitu temen-temen blogger. Mereka juga sigap membantu jika dibutuhkan. Tapi tetep beda kan ya kalo ada ayahnya, atau saya bawa asisten khusus untuk membantu.

Pengalaman tak terlupakan traveling sama duo bocah ke Belitung
Setelah menimbang, memperhatikan, memperhitungkan, dan lain sebagainya, akhirnya kami setuju untuk menginap di hotel tersebut sesuai waktu yang ditawarkan mbak Marcomm. Karena jikalaupun mau diundur sampai weekend berikutnya, kami juga ngga bisa karena sudah ada agenda lainnya. Ya itung-itung latihan traveling sambil bekerja bawa tiga anak. Tapi kali ini travelingnya hanya sebatas jalan-jalan di seputaran hotel dulu ^^ 

Kok bisa sih traveling sambil bekerja bawa anak-anak, tanpa ayahnya (atau asisten khusus). Apa ngga repot? 

Beberapa orang menanyakan hal semacam ini pada saya. Hmm.. gimna ya. Bohonglah kalo saya bilang ngga repot. Tapi paling ngga kita bisa meminimalisir kerepotan. Sehingga meski sedikit repot tapi tetap bahagia. Cailah.... 

Lalu bagaimana tips dan trik nya? 


Oke sebelum kita bahas tentang tips dan trik traveling sambil bekerja bersama anak, -hanya bersama anak- kita akan bahas ini dulu. Kenapa harus traveling sambil bekerja? Bukannya malah jadi beban? Nanti jadi ngga menikmati liburan dong karena pikiran bercabang-cabang. Quality time bersama anaknya jadi ngga total. Ya mungkin ada yang beranggapan demikian tapi saya sih ngga, asalkan kita bisa menempatkan segala sesuatu sesuai dengan porsinya. 

Ada beberapa alasan sih kenapa harus traveling sambil bekerja:

1. Di waktu yang bersamaan dengan jadwal traveling tiba-tiba ada pekerjaan yang masuk. Saya sih sebisa mungkin memang menyelesaikan pekerjaan yang deadline nya sudah dekat sebelum traveling, karena ngga mau jadi kemrungsung alias terburu-buru, ngga tenang saat mengerjakan tugas. Tapi pernah kejadian, dua hari sebelum agenda traveling ke Belitung, ada tawaran pekerjaan, dimana saya harus meliput event-nya dan membuat reportase di blog. Karena honornya lumayan, dan menurut saya kerjanya ngga berat-berat amat, akhirnya saya ambil job itu. Saya berangkat ke Belitung sambil membawa pekerjaan. Traveling sambil bekerja. Pagi sampai malam ba'da isya saya menikmati liburan, malamnya setelah istirahat sebentar dan anak-anak tidur, saya menyelesaikan tugas yang saya bawa. Tapi ya kita harus bisa memilah mana pekerjaan yang bisa dibawa dan dikerjakan saat traveling, mana yang ngga. Jangan memaksakan diri, yang akhirnya hanya menjadi beban, saat harusnya kita bersenang-senang liburan.

Traveling sambil bekerja dan tetap bahagia :)
2. Karena saya pekerja kreatif dan ide bisa datang dimana saja. Bekerja bagi saya bukan hanya nunggu tawaran datang kemudian saya mengerjakan. Sebagai pekerja kreatif (penulis dan blogger) bisa jadi pas lagi duduk-duduk di taman kota eh kok mood banget pengen lanjutin draft novel yang masih teronggok di laptop. Ya udah cuss kerjain sebelum ide dan mood menguap, ye kan. 

3. Karena traveling adalah pekerjaan itu sendiri. Sebagai blogger, bagi saya traveling itu adalah bersenang-senang sekaligus bekerja. Saya merasa sayang kalo momen jalan-jalan tidak diabadikan di blog. Meskipun traveling dari biaya sendiri loh ya, bukan karena disponsori. Waktu saya jalan-jalan sama keluarga besar ke Malang, saya udah niati semua akan saya tulis, mulai dari tempat wisata yang kami kunjungi, hotel, sampai resto pengen saya tulis di blog. Tujuannya apa? Selain untuk mendokumentasikan hidup, sekaligus buat portofolio juga sebagai reviewer. Karena ngga menutup kemungkinan loh, tawaran pekerjaan datang bermula dari tulisan di blog kita yang kita tulis bukan karena dipesan siapapun. Tapi murni kepengen aja, ya kali ada yang butuh tulisan kita bisa membantu.

Yang namanya content creator, kalo traveling ya sambil bekerja :)
4. Pikiran lebih relaks saat traveling daripada saat berada di rumah. Seringkali saya merasa demikian. Sehingga sangat-sangat menikmati traveling sambil bekerja. Lho kok bisa. Iya karena saat traveling yang ada di pikiran kita hanyalah besok pagi akan bersenang-senang lagi, tanpa mikir masak, cucian, ngerapiin rumah. Beda kan kalo di rumah. Sebelum anak-anak bangun pagi berjibaku menyelesaikan tulisan, habis itu masih harus beberes dan masak buat bekal anak sekolah. Tuluuuung. 
Traveling sambil bekerja bersama anak-anak, jelas punya tantangan tersendiri. Tantangan pertama pekerjaan yang kita bawa, yang kedua membawa anak-anak (tanpa kehadiran orang dewasa lain). Gimana supaya bisa menikmatinya? Berikut tips&trik traveling sambil bekerja bersama anak ala saya: 

1. Latihan.
Sebelum saya berani ngajak anak-anak traveling jauh tanpa ayahnya, ada masa dimana bahkan cuma jalan-jalan di dalam kota aja saya ngga berani hanya berdua saja bareng bocah. Harus ada ayahnya atau orang dewasa lain ikut serta misal bude atau neneknya. Saya inget banget pertamakali akan menghadiri event blogger, saat Thifa umurnya belum dua tahun. Padahal cuma acara santai, tapi ngga berani pergi berdua aja. Saya membayangkan gimana kalo dia bosen, atau kalo nanti saya sholat, dia siapa yang jagain, dll. Setelah itu saya mulai pelan-pelan memberanikan diri hanya pergi berdua saja sama anak, untuk jarak dekat. Lama-lama coba rute agak jauhan Semarang-Kudus, terus Semarang-Jogja, sampai berani Semarang-Belitung selama 3 hari untuk traveling sambil bekerja bersama anak-anak.

Yuk kiddos, kita jalan-jalan naik becak :)
2. Membuat perjanjian dan pembagian tugas
Jauh-jauh hari sebelum berangkat saya harus membuat perjanjian dan pembagian tugas dengan anak-anak. Apa yang harus mereka lakukan dan apa yang tidak boleh mereka lakukan. Jelaskan juga situasinya pada mereka, kalo kita jalan-jalan sambil bekerja, dan Ayah ngga ikut. Misalnya untuk anak yang besar kita beri tugas membawa pakaiannya sendiri yang dipacking pada sebuah tas ransel, kalo adeknya diminta membawa barang yang lebih ringan. Untuk perjanjiannya, ya sesuai kebutuhan aja sih. Misalnya, saya biasanya minta Hana janji ngga boleh minta gendong. Atau janji anak-anak ngga boleh minta jajan pas lagi cekak. Jadi emak ngga repot sendiri. 

3. Siap dan sehat
Siap, baik ibu maupun anaknya. Pikirkan dengan baik kira-kira kemungkinan buruk apa yang akan terjadi jika traveling sambil bekerja bersama anak. Misal anak rewel, tiba-tiba anak sakit, dll. Kira-kira sanggupkah menghadapinya sendirian? Dan pastikan juga kondisi tubuh sehat saat akan melakukan perjalanan. Karena, sakit pada saat di rumah aja udah repot apalagi sakit pada saat traveling ye kan. 

4. Membuat checklist barang bawaan
Sebelum packing buat terlebih dahulu cheklist barang yang akan dibawa. Apalagi bawa anak-anak kan, printilanya mesti banyak. Yang harus bawa pakaian anak lah, sepatu, perlengkapan renang, mainan, makanan, dll. Bikinnya jauh-jauh hari sebelum berangkat untuk meminimalisir barang tertinggal. Jadi pada saat packing, barang yang sudah masuk tas, tinggal dicentang. 

5. Packing sesimpel mungkin
Inget tangan cuma dua, anak yang dibawa ada berapa, jadi sebisa mungkin jangan kebanyakan bawa tentengan barang. Biasanya saya sih packing di satu tas besar, yang nantinya akan dimasukkan bagasi. Terus bawa sling bag buat diisi dompet, HP, tiket, dokumen penting yang harus dibawa. Makanan dan masing-masing satu baju ganti anak (jaga-jaga kalo bajunya basah, ketumpahan makanan, dll) dibawa di tas ransel anak. Pemilihan pakaian yang dibawa juga harus diperhatikan. Saya biasanya ngga bawa pakaian berbahan jins karena berat dan tebal, memakan tempat. Lebih memilih baju dengan bahan kain biasa yang tidak mudah kusut.



Karena traveling sambil bekerja, otomatis harus siap peralatan tempur alias perlengkapan buat kerja dong. Perlengkapan kerja saya cukup dua aja sih, yang pertama smartphone buat dokumentasi, udah sepaket sama alat komunikasi. Saya ngga bawa kamera khusus, karena ribet kan ya, kalo traveling bareng anak-anak, selain itu ngga punya jugak huahahah, thats the point!


Perlengkapan kerja kedua adalah LAPTOP. Tapi.... bawa laptop saat traveling ini biasanya bikin maju mundur. Karena ukuran laptop kan lumayan besar ya, beratnya juga bisa dibilang lumayan. Bawanya  kudu hati-hati ngga bisa dicampur aja di tas pakaian, trus masuk bagasi, ntar kalo tasnya ketindih-tindih tas lain yang lebih berat atau dilempar-lempar gimana, kan takut rusak jadinya. 
Karena alasan yang udah saya sebut tadi di atas, selama ini kalo mau bawa laptop saat traveling, saya mikir dulu, repot ngga bawanya? Bisa ngga kerjanya tanpa laptop aja biar lebih ringkes bawaannya. Kalo jawabannya ngga, ya dengan terpaksa dibawa juga, untungnya sih laptop yang saya miliki ini ukurannya ngga terlalu besar, cuma 11,6 inchi dengan bobot 1,25 kg. 

Oya kenalin dulu ini laptop yang selama ini menemani saya berkarya, termasuk saat harus traveling sambil bekerja di luar kota, ASUS E202S yang saya dapat dari hadiah salah satu lomba blog.

Netbook E202S yang sekarang dibawa kemana-mana
Sebelumnya saya menggunakan ASUS X200M pemberian ibu saya. Waw serba ASUS ya. Iya waktu itu ibu ngasih dalam bentuk cash, nih kalo mau dibelikan laptop. Huhuhu kalo inget ini terharu, betapa Ibu sangat mensupport semua aktivitas saya bahkan sampai saya sudah berumah tangga. Kemudian saya bilang ke suami, carikan laptop yang bagus dan murah untuk saya ngetik sama internetan. Dibelilah laptop ASUS X200M. Laptop ini juga sudah sampai kemana-mana lho. Menemani traveling sambil bekerja saya ke Kudus, Malang bahkan ke Belitung. Setelah ada laptop ASUS E202S, laptop ASUS X200M masih tetep dipakai tapi untuk di rumah saja, kebanyakan sih dipakai suami untuk garap kerjaan di rumah.

Saat harus upload komik, padahal sedang di luar kota. Untung bawa laptop, cus cari tempat berwifi
Waktu mendapat laptop ASUS E202S, saya girang bukan kepalang karena sesuai dengan spek laptop yang saya butuhkan. Ukuran tidak terlalu besar, cukup ringan, baterai tahan lama, bisa aktif sampai 8 jam. Untuk speknya yang penting cukuplah buat mengetik dan internetan, karena kerjaan saya saat itu sebagai seorang penulis. 

Tapi... seiring situasi dan kondisi yang berubah... saya kepikiran untuk mengganti laptop supaya jika tiba masanya lagi traveling sambil bekerja bersama anak-anak, terasa lebih nyaman dan tetap produktif. 
Katanya laptop ASUS yang saya punya sudah cukup mumpuni untuk pekerjaan sebagai penulis? Kenapa harus ganti?

Saya ini bukan tipikal orang yang gadget minded, yang tiap ada gadget model baru apa keluar langsung pengen ganti. Kalopun saya merasa pengen ganti pasti karena ada sebab musababnya misalnya karena saya butuh atau ada yang mau kasih gratis muahahaha. Situasi dan kondisi yang udah berubah saat ini menjadi penyebab saya ingin ganti laptop yang sesuai dengan kebutuhan saya. Emang situasi dan kondisi kaya apa siiih dan butuh laptop seperti apa? 

1. Anak saya sekarang nambah satu, jadi 3Lho apa to hubungannya anak sama laptop, ya ada lah, dengan nambah anak, apalagi anaknya masih harus digendong ke sana ke mari, berarti nambah bawaan kan, belum lagi printilan kaya pakaian, makanan, mainannya dll. Jadi saya butuh laptop yang lebih ringan untuk dibawa kemana-mana.



2. Saya butuh laptop bukan hanya buat nulis. Tapi juga buat mengedit video dan membuat komik. Tahun ini saya bertekad pengen bisa gambar. Ya paling ngga gambar-gambar sederhana lah. Punya suami pinter gambar kok kayaknya eman kalo ngga dimanfaatkan buat ngajarin, hahaha. Apalagi kami ada projek komik baru di tahun ini. Makanya saya butuh menginstal program-program yang menunjang untuk kegiatan tersebut. Karena programnya cukup berat, saya ngga berani instal di laptop saya yang sekarang, takut lemot. Program photoshop sudah coba instal di laptop rumah dan ternyata laptopnya agak ngos-ngosan menjalankannya, sehingga akses menjadi lambat. Saya butuh laptop dengan performa lebih tinggi, yang memiliki prosesor dan RAM yang mendukung kecepatan kinerja.

Instal photoshop di laptop lama ternyata berat....
3. Karena alasan keamanan, saya menggunakan password untuk membuka laptop, tapi rasa-rasanya jadi lama dan ngga praktis. Pas mau buka laptop bocah rewel, ngetik passwordnya jadi salah-salah karena ngga konsen. Belum lagi kalo lupa password. Jadi gimana dong apa ngga usah dikasih password atau ada laptop yang menawarkan kemanan lebih cepat dan praktis? 

4. Saya butuh laptop yang bisa digunakan meski dalam kondisi pencahayaan minim. Karena saat traveling bersama anak, biasanya saya mengerjakan tugas dengan laptop di malam hari, saat anak-anak sudah terlelap. Dan anak saya kalo tidur lampunya harus redup. 

5. Meski cukup puas dengan ketahanan baterai laptop lama, kalo bisa sih saya pengen yang lebih tahan lama lagi hihihi. Laptop lama saya itu masa aktif baterainya bisa sampai 8 jam. Kira-kira ada ngga ya laptop bagus yang masa aktif baterainya lebih dari itu? Karena bisa jadi kan suatu saat nanti traveling ke sebuah tempat yang akses kelistrikannya tidak semudah di cafe atau hotel. Mungkin aja pas lagi di gunung atau pantai saya keidean buat nulis sesuatu. 

6. Anak-anak saya sangat aktif, berlarian, lelompatan, main lempar-lemparan, bahkan di atas tempat tidur saat saya sedang mengetik. Aduuh jadi takut kan laptop kesenggol atau keinjek. Jadi saya butuh laptop yang kuat, mau kesenggol kek, keinjek, kelindes motor tetep sehat walafiat. 

Sayapun mencoba mencari laptop yang sesuai dengan kriteria di atas. Dan menemukan, ASUS ZenBook UX331UAL memiliki semua yang saya butuhkan. Bismillah doakan ya temans moga-moga kesampaian #2018PakaiZenBook.

Ya mengapa harus ASUS ZenBook UX331UAL? Emang kaya apa sih laptopnya? 

1. Laptop super tipis dan super ringan asyik diajak jalan. Seperti yang saya sebut di atas, saya pengen laptop yang lebih ringan supaya nyaman saat traveling sambil bekerja dengan membawa anak-anak. Pas banget laptop ini beratnya hanya 985g dengan ketipisan 13.9mm. Lebih ringan dari laptop saya sekarang. Desain bingkai NanoEdge juga sangat ringkas untuk laptop ukuran 13 inchi.

Setipis iniiii


2. Kinerja yang cepatSelama ini kebanyakan yang saya lihat, laptop dengan spek tinggi ukuran pasti besar dan berat. Tapi tidak pada ZenBook UX331UAL. Meskipun desainnya ringkas dan ultraportabel, laptop ini tidak berkompromi dengan kinerjanya, dibekali dengan Prosesor Intel® Core™ i5 Generasi ke-8 dan dipadankan dengan RAM tercepat DDR4 2133MHz serta penyimpanan kecepatan tinggi dan handal, berbasis M.2 SSD. ASUS sudah menjalankan pengujian dengan aplikasi benchmark umum seperti PCMark, 3DMark, Geekbench, Cinebench dan Unigine Heaven Benchmark, untuk mengetahui performa ZenBook UX331UAL. Dari hasil pengujian disebutkan bahwa laptop ini sudah sangat mumpuni untuk digunakan sebagai perangkat pendukung produktivitas. Baik produktivitas esensial seperti aplikasi office, email ataupun produktivitas lainnya, sampai ke aplikasi editing konten digital baik foto ataupun video. Menjalankan aplikasi rendering pun tidak masalah karena performa prosesor Intel Core 8th generation, bekerja sangat baik secara single core ataupun multi-core.

3. Sistem keamanan dari ASUS ZenBook 13 UX331UAL lebih simpel, cepat, dan praktis, karena sudah mendukung Windows Hello, sebuah cara mengakses sistem operasi Windows 10 hanya denngan menghadapkan wajah ke layar notebook atau menempelkan jari di sensor fingerprint, maka pengguna sudah bisa langsung bekerja dengan laptop-nya atau membuka file-file yang dibutuhkan. Ngga perlu lagi password yang makan waktu untuk mengetikkannya, belum lagi resiko lupa password.

4. Kenyamanan saat mengetik meski dalam kondisi minim cahaya. ZenBook UX331UAL dilengkapi dengan keyboard backlit ukuran penuh dengan desain yang kokoh, memberi pengguna pengalaman mengetik yang luar biasa dalam segala kondisi pencahayaan. Dengan jarak penekanan tombol keyboard 1,4 mm dioptimalkan untuk kenyamanan saat mengetik. Laptop ini juga didukung dengan teknologi palm-rejection dan mendukung gerakan multi-jari dan tulisan tangan.

Keyboard backlit, dan di sebelah kanan bawah yang kotak kecil itu sensor fingerprint
5. Baterai yang super awet. ASUS ZenBook UX331UAL ini disebut-sebut dirancang untuk mereka yang memiliki gaya hidup non-stop, karena ZenBook ini menawarkan kebebasan pemakaian baterai sepanjang hari. Masa aktif baterai ZenBook UX331UAL Yep, laptop ini dilengkapi dengan baterai lithium-polymer 50Wh yang dirancang khusus untuk memberikan ZenBook UX331UAL daya tahan baterai hingga 15 jam. Jadi kalo pas traveling di hutan belantara gitu, masih bisalah sambil kerja.

6. Lolos pengujian berat standar daya tahan military-grade MIL-STD 810G. Meski ringan dan tipis, ZenBook UX331UAL ini ternyata kuat dan tahan banting. Jangankan banting habis dilindas motor pun, ternyata laptop ini masih menyala dan secara fisikpun ngga ada kerusakan. Duh saya sampai merinding lho waktu nonton uji kekuatan ZenBook UX331UAL di channel youtuber idolah saya, Raditya Dika. Ya masa coba, laptop, diinjek, dibuat mainan tenis, dijatohin dari ketinggian, trus dilindes motor gitu. Alhamdulillah nya si ZenBook masih sehat walafiat. Jadi cucoklah untuk saya yang kalo traveling bawa rombongan sirkus. Mau nyenggol laptop gueh? Nyoh, nyoh, nyoh!



Waah bener-bener deh sesuai dengan 6 kriteria yang saya inginkan. Etapi masih ada kelebihan lainnya lo. ZenBook UX331UAL ini akan memberikan pengalaman audio terbaik dengan perangkat Harman Kardon-nya. Untuk konektivitas, ZenBook 13 dilengkapi dengan port USB Type-C baru yang dapat dibalik, memiliki desain any-way-up untuk membuat perangkat terhubung semudah mungkin. Ada juga card reader MicroSD berkecepatan tinggi yang dua kali lebih cepat daripada pembaca standar, sehingga kita dapat menggunakannya untuk menambahkan penyimpanan ekstra.

Selain itu, ZenBook UX331UAL menggabungkan teknologi ASUS Wi-Fi Master, sehingga kita akan menikmati koneksi Wi-Fi yang lebih cepat dan lebih andal pada jarak yang lebih jauh daripada sebelumnya. Dengan Master Wi-Fi, kita bisa menikmati streaming video YouTube Full HD pada jarak 300 meter bahkan lebih lho!



Dengan spesifikasi di atas, emang pantas lah ya, kalau ASUS ZenBook 13 UX331UAL menjadi #LaptopIdamanSobatTraveler. Kalo punya laptop ini mah, ada yang nantangin saya untuk traveling sambil bekerja bersama trio bocah, hayuuuk ajah, siapa takut?! Ntar nunggu Sarah gedean dikiit aja.

9 komentar:

  1. Naksir laptopnya mbak, Mantab banget buat diajak jalan-jalan. Hehehe.

    BalasHapus
  2. Haduuuu lucu banget adeknyaaaa. Bikin gagal fokus. Hehehe


    Laptopku juga suka ngelag kalo dipake potosop. Jadinya aku kalo desain pake aplikasi desain online. Seadanya. Hahaha

    BalasHapus
  3. Wuaaa, ngetrip ngajak 2 balita, kerennn... Aku 1 balita ajah kewalahan mbk

    Bdw, asus cocok mbk buat yg dolan sambil kerja

    Semoga, 2018 pakai zenbook yaa mbk
    Aamiin

    BalasHapus
  4. Waaw artikelnya lengkaaap bangeet :)
    Good luck ya :)

    BalasHapus
  5. Kereen dan salut Mbak pean bisa handle 2 anak saat ke Belitong dan sekarang nambah jadi 3, meski hanya staycation di hotel tetep aja pasti rempong.
    Aku juga butuh laptop yg bisa menunjang aktivitas traveling sambil bekerja, moga ada rejeki kita di lomba Mbak Rien aamiin.

    BalasHapus
  6. Aku takut banget lho Mbak kalo pergi berdua sama Kak Ghifa apalagi dalam waktu yang lama. Kalo sejma dua jam okelah. Patut dicobalah suatu hari hanya pergi berdua.

    BalasHapus
  7. Wuih,, super mama tenan mbak Rahmi.
    Semoga kesampaian ya ganti laptopnya.

    BalasHapus
  8. Yang paling enak emang kalo bisa kerja sambil jalan-jalan :D
    Tapi aku sering juga jalan2 ya jalan2 aja karena bener2 butuh refreshing tanpa mikirin kerjaan :)

    BalasHapus