Minggu, 30 September 2018

5 Hal Yang Akan Saya Lakukan di Makassar Bersama Huawei Nova 3i

A Place To Remember. Ketika Noe mengumumkan tema giveaway ini, saya langsung excited, dan tahu apa yang akan saya tulis. 

MAKASSAR.

Pantai Losari tahun 2007
Ya Makassar, saya menyebutnya kampung halaman kedua. Meski tidak ada sama sekali darah Makassar mengalir pada tubuh saya. Papa maupun ibu saya, semuanya orang Jawa. Tapi Makassar punya sejuta kenangan yang membuat saya ingin kembali mengunjunginya. Suatu saat bersama keluarga. Suami dan anak-anak. 

Dulu, jaman masih ngantor, Papa saya dinasnya berpindah-pindah. Saat saya kelas 4SD, Papa dipindah tugaskan dari Bandung ke Makassar. Kami di Makassar cukup lama, sekitar 4,5 tahun. Jadi saya melalui masa kanak-kanak dan remaja di sana. Setelah lulus kuliah, saya kembali lagi ke kota itu dan pertamakali mendapatkan pekerjaan impian saya, menjadi penyiar radio. 

Masa kanak-kanak, remaja, dewasa, plus mendapatkan pekerjaan impian. Empat hal itu tentu saja membuat Makassar begitu lekat di hati saya. 
Sayang rumah Papa yang di Makassar sudah di jual. Seorang teman di Makassar pernah nyeletuk waktu lihat saya mengiklankan rumah itu di Facebook. 

“Rahmi, janganko jual itu rumah, nanti ndak pernah ko datang lagi ke sini.” 

Mungkin sedikit benar apa yang dikatakan teman saya itu. Dengan dijualnya rumah, salah satu pengikat kami dengan kota Makassar sudah terlepas. Tapi ada ikatan yang tidak bisa melepaskan saya dengan Makassar. CINTA dan KENANGAN. 

Saya sering berandai-andai. Seandainya saja ada rejeki saya untuk kembali ke kota Makassar, apa saja yang mau saya lakukan di sana ya? 

1. Bertemu teman lama. Pada waktu saya kembali ke Makassar setelah lulus kuliah, saya hanya bisa bertemu dengan beberapa teman SMP dan teman sekompleks perumahan. Teman-teman lainnya seperti teman SD dan teman di kompleks perumahan lama sama sekali kehilangan kontak. Untungnya saya ingat nama lengkap beberapa teman saya. Bertahun-tahun setelah itu, setelah ada facebook, saya mencoba mencari mereka. Dan ketemu. Oh thanks Facebook! Beberapa dari mereka sempet inboxkan panjang dengan saya, cerita-cerita tentang masa lalu yang kami lewati bersama. Tentang guru yang galak, teman yang tasnya selalu berat karena tiap hari bawa kamus English-Indonesia-English nya Hasan Sadeli, dll. Saya posting scan-an foto-foto lama yang alakadarnya itu dan mentag mereka. “Ayo kita reuni,” kata mereka.

Kuingin bertemu mereka
2. Napak tilas tempat bersejarah penuh kenangan. Bersejarah di sini bukan berarti tempat bekas pendudukan Jepang atau Belanda, tapi bersejarah bagi saya. Seperti sekolahan. Ya saya pengen banget datang ke sekolahan bareng temen-temen. Duduk di bangku yang pernah jadi saksi betapa malasnya saya mencatat pelajaran. Berlama-lama memandangi pekarangan tempat kami bermain ular naga panjangnya, atau jajan asisan kedondong di kantin sekolahan. Ahhh kira-kira, apakah semuanya masih seperti dulu?

Salah satu tempat bersejarah. Rumah yang udah bukan milik kami lagi, hiks :'(
3. Siaran. Ya siaran, saya kangen siaran, saya pengen datang ke radio tempat saya kerja dulu untuk numpang siaran melepas rindu. Udah pernah sih saya utarakan sama bos saya dulu. “Mba, kalo saya ke Makassar boleh siaran lagi di sana?” Boleh dong, jawabnya, yeayyy!!!

Cuma satu-satunya foto saat siaran yang kupunya, hiks

4. Berburu kuliner Makassar. Dulu saya sering komplen ke temen nongkrong, kenapa sih tiap kali kita jalan, trus laper, selaluuu makannya coto Makassar. Sekarang saya teramat sangat merindu dengan Coto Makassar dan makanan khas Makassar lainnya seperti Kapurung, Sarabba, dan Pisang Epe. Di Semarang ada sih resto makanan khas Makassar yang suka saya kunjungi kalo lagi kangen berat dengan kuliner Makassar. Tapi ngga sekomplit yang ada di kota aslinya. 
Coto Makassar dan Es Pisang Ijo, nyummiiii
5. Mengunjungi tempat wisata dan kota lain yang dekat dengan Makassar. Salah satu penyesalan yang selalu muncul ketika mengenang Makassar adalah, kenapa waktu saya di sana saya tidak maksimalkan untuk traveling di daerah sekitar sana. Misalnya ke Tana Toraja atau ke Tanjung Bira, a place to remembernya Noe. Hehehe. Kalo kata anak gaul jaman sekarang, “Piknikku kurang adoh gaes!” Selama di Makassar 6 tahun tempat yang saya kunjungi ya paling itu-itu aja. Kalo ngga Pantai Losari, Bantimurung. Pernah sekali ke Pantai Tope Jawa dan Tanjung Bunga. Piknik yang agak jauh baru terjadi kalo ada gathering di kantor Papa. Dulu sempat ke Malino dan Pare-Pare. Bahkan sekarang tempat yang sering saya kunjungipun udah banyak perubahan, tambah bagus tentunya, dan saya pengen kembali ke sana lagi. 

Itulah 5 hal yang ingin saya lakukan jika ada rejeki mengunjungi Makassar lagi. Oya ada satu hal maha penting yang tak boleh terlewatkan jika melakukan 5 hal tadi, yaitu MENDOKUMENTASIKAN KENANGAN kalo ngga mau dibilang pamer. Huahaha. Ye kan apalah artinya jauh-jauh traveling ke Toraja kalo ngga instastory dan pajang foto dengan tedong bonga di instagram. 

Nah ini satu hal juga yang menjadikan kenapa Makassar jadi kota yang pengen saya datangi kembali. Kenapa bukan Bandung atau Denpasar, secara saya juga pernah tinggal di sana. Selain keterikatan emosional, hanya Makassar lah yang belum saya kunjungi di era smartphone kece seperti saat ini. Saya meninggalkan kota Makassar di tahun 2008 dimana smartphone baru punya kamera belakang. Kalo mau selfie ya pakai ilmu kira-kira. Kira-kira kalo posisinya begini dengan kemiringan sekian derajat masuk frame ngga ya. Pas di cek eh kok cuma jidat doag yang kefoto. 

Resolusi kamerapun masih sangat rendah. Jaman dulu kamera smartphone saya hanya 2MP. Kalo dilihat-lihat di masa itu fotonya sih lumayan ya, mungkin karena dilihatnya di layar smartphone yang kecil. (Jaman dulu semakin kecil smartphone semakin kece, wkwkwk). Sekarang pas mau diunggah ke instagram kok ngga "pamer-able" banget, fotonya pecah gitu. 

Makanya kalo nanti ke Makassar saya harus membawa serta smartphone yang super duper kece untuk mendokumentasikan kelima hal yang sudah saya sebut di atas tadi. Yang resolusi kameranya tinggi jadi fotonya jernih. Saya juga pengen bikin foto bokeh ala-ala gitu tapi yang gampang settingannya dan alus hasilnya. Memorinya juga harus besar dong, secara saya pasti akan bikin banyak foto dan video di sana. Kalo bisa yang performa oke buat gaming. Supaya kalo pas saya haha hihi sama temen lama, si ayah dan trio bocah ngga bosen nungguinnya, bisa sambil main game. 


Belakangan ini saya melihat di socmed rame dengan smartphone Huawei Nova 3i yang baru dilaunching akhir Juli kemarin. Saya jadi berandai-andai jika bisa membawa smartphone ini, untuk mendokumentasikan segala kegiatan saya di sana. Kenapa Huawei Nova 3i?

Pertama, Huawei Nova3i dibekali empat kamera AI 24 MP + 2 MP di bagian depan dan 16 MP + 2 MP di belakang. Waw. Luar biasa besar ya resolusinya. Dan penasaran dong dengan AI. Apa itu AI? AI singkatan dari Artificial Inteligent alias kecerdasan buatan. Apa kelebihan dari AI? Katanya sih AI ini bisa meningkatkan kehidupan pengunanya, eng mungkin maksudnya banyak membantu untuk mengatasi masalah yang sering dikeluhkan pengguna smartphone. Misal suara berisik di sekitar saat kita sedang bertelepon. Fitur AI bisa menghilangkan sura berisik tersebut sehingga kita dapat menangkap pembicaraan telepon dengan jelas. Kelebihan lainnya memudahkan untuk belanja online. Kalo biasanya kita mengetikkan nama barang untuk mencari toko yang menjual, dengan teknologi AI, cukup dengan memasukkan fotonya dan barang yang cari akan bermunculan. AI pada sektor fotografi bisa membuat hasil foto semkain maksimal. Salah satunya menciptakan efek bokeh profesional dan alami.



Kedua, disain bodinya premium. HUAWEI nova 3i menyediakan tiga model warna, ada Black, Iris Purple dan Camaro. Dengan corak warna yang indah di kaca belakang dan bingkai metal yang terletak di tengah. Spesifikasi HUAWEI nova 3i dengan layar 6,3 inch FHD+ (2340 x 1080) memberikan pandangan yang luas tapi tetap pas digenggam dan untuk diletakkan di saku. 

Ketiga, memiliki performa gaming dengan GPU Turbo yang dipadukan dengan teknologi AI. HUAWEI nova 3i juga akan segera merilis kemampuan chipset untuk mencapai respon yang cepat. Transisi yang lembut antara 4G dan Wi-Fi memberikan pengalaman yang mulus, bahkan katanya saat jaringan Ponsel Android mengalami penundaan. Mode uninterrupted gaming di Fitur HUAWEI nova 3i menyembunyikan semua notifikasi.

Keempat, memorynya gedeee, 128GB cyiint! Dengan begini saya bisa puas foto-fotoan dan bikin video tanpa harus repot pindah-pindah data karena takut memori penuh.

Jadi teman-teman, harap maklum lah kalo foto-foto yang ditampilkan di sini kualiasnya pas-pasan. 5 Hal Yang Akan Saya Lakukan di Makassar Bersama Huawei Nova 3i, Quad AI Camera, Smartphone termurah di kelasnya dengan storage 128GB sudah saya tuliskan. Bagaimana denganmu temans?

Tulisan ini diikut sertakan dalam giveaway di blog nurulnoe.com



4 komentar:

  1. Ahhh Mbak Rahmi difotonya itu yang pakai jilbab yah mbak? hehee
    Nah iya, foto dengan gaya dua jari ternyata udah ada dari dulu yah mbak hehee
    aku gagal fokus merhatiiinya heheee
    Foto lama memberikan banyak kenangan yang tak akan terlupakan tuh mbak, hheee
    Meski scanan tetap aja kalau mengingat Makasaar kebayang dg 4 hal yg smean sbutkan bukan heee
    Smoga bisa kembali ke Makasaar lagi sekligus jalan-jalan mengingat kenangan2 dulu skligus mengabadikannya lewat bingkai foto pakai huawei Nova 3i nya yah Mak Irits heeee
    Guud Luck Mbak Rahmi ^_^

    BalasHapus
  2. Wah banyak cerita sahdu di Makassar ya mbak. Sukses selalu ya mbak hehehe

    BalasHapus
  3. Yowis ditunggu foto-fotonya yang pamer-able di Makassarnya mb bersama Smartphone kecenya, kalau aku apa daya cuma bisa pamer-able dalam bidang serangga dan teman-temannya :)

    BalasHapus
  4. Puas yaa kalo balik ke Makassar dgn bawa hp ini. Kenangannya bisa lebih terjaga

    BalasHapus