Kamis, 18 Desember 2014

Kultwit #KonsumenCerdas

Beberapa hari lalu saya sempet bikin postingan dengan judul "Uang Kembalian Hak Konsumen" di blog satunya yang kemudian menjadi headline di BLOGdetik *pamer dikit hihi* *monggo dibaca dengan seksama supaya lebih jelas dan tidak ada salah paham*

Berbagai respon muncul dari postingan itu, ada yang setuju, merasa senasib, minta diperjuangkan, bilang "relain aja", ada juga yang agak ketus menganggap saya tidak berempati terhadap para pegawai di minimarket.




Pertama yang perlu diluruskan, supaya ngga salah paham nih ya. Rp 75,- yang saya bilang buat donasi itu langsung ditambahkan dari awal, jadi dihitung bareng barang belanjaan, BUKAN selisih dari pembulatan belanjaan ya. Nah setelah ditotal didapat angka Rp 25.925,- kemudian dibulatkan lagi menjadi Rp. 26.000 sama mbak kasirnya (udah saya tambahkan note ini di postingan kemarin).

Seperti yang saya bilang di status fesbuk saya kemarin, "Bagi saya menuntut uang kembalian yang merupakan hak kita, sekecil apapun itu bukan soal nominalnya. Bukan pula saya menghitung-hitung berapa untung yang didapat penjual dari uang kembalian itu. Tapi lebih kepada keinginan saya berperan serta memberantas mental korupsi dimulai dari hal kecil. Sekarang mungkin mereka baru bisa nilep uang Rp.25,-, gimana kalau ada kesempatan nilep uang yang lebih besar? "

Nah berkaitan dengan itu saya sempet bikin kultweet di akun @rahmiaziza, saya dokumentasikan di sini mungkin ada yang ngga sempet ngikutin

  1. Posting tulisan “Uang Kembalian Hak Konsumen” ternyata banyak yang komen mengalami nasib yang sama ln.is/ow.ly/mgBma #KonsumenCerdas
  2. Pernah ngalamin uang kembalian diganti sama permen atau belanjaan digenapkan jadi lebih banyak? #KonsumenCerdas
  3. Kita boleh lho menolak permen sebagai uang kembalian, sesuai UU BI no.2 ayat (3) *hasil googling #KonsumenCerdas
  4. Banyak yang sering membulatkan total belanjaan alasannya tidak punya kembalian dengan nominal (misal) Rp.25 atau Rp.50 #KonsumenCerdas
  5. Ada yang membulatkan jadi lebih murah *salut* tapi lebih banyak kasus saya alami membulatkan jadi lebih mahal #KonsumenCerdas
  6. Nominal Rp.25 atau Rp.50 memang tidak seberapa, tapi mental pencuri dan tidak menghargai hak orang lain yang perlu disoroti #KonsumenCerdas
  7. Pemberantasan korupsi dimulai dari hal kecil, sekarang baru berkesempatan nilep Rp.25, kalau ada kesempatan lebih besar? #KonsumenCerdas
  8. Kalo ngga punya pecahan segitu ngasih harga yang normal2 aja, ga perlu pake embel2 Rp.25,- di belakangnya. Beres! #KonsumenCerdas
  9. Yg terbaru kemarin saya belanja dikenakan tagihan Rp75, tulisannya buat donasi, tapi kok ngga minta persetujuan dulu yak? #KonsumenCerdas
  10. Lagi-lagi bukan soal nominal, apalagi buat donasi. Tapi ini kesannya maksa dan seperti memanfaatkan kelengahan konsumen #KonsumenCerdas
  11. Sebagai konsumen kudu lebih teliti, minta struk belanja dan periksa sebelum meninggalkan kasir #KonsumenCerdas
  12. Meskipun hanya Rp.50,- itu hak kita, minta! #KonsumenCerdas
  13. Bayar pakai kartu (kredit/debit) bisa jadi solusi biar uang kembalian kita ngga ditilep sama minimarket/supermarket #KonsumenCerdas
  14. Atau siap uang receh. Jadi begitu mereka mau genapin atau ganti permen bilang, saya punya recehan kok! #KonsumenCerdas
  15. Ingat menuntut uang kembalian bukan soal nominal tapi kita turut berperan membentuk mental bangsa yang anti korupsi #KonsumenCerdas
Moga bermanfaat ya temans dan maaf kalau ada yang tidak berkenan :)


@rahmiaziza

17 komentar:

  1. Wah, komenku termasuk kena skrinsyut & ada yg bales komenku tuh. Berhubung kalo aku ditanya dulu & nominal cuma segitu, jd kukasih. Kapan lagi ngasih sumbangan? Krn aku ini termasuk jarang nyumbang hehe... kalo Indomaret kayaknya pernah update penyaluran sumbangannya ke mana. Barangkali klo ditanyain lg, kita balik tanya: boleh minta update penyaluran sumbangannya?
    Kalo aku mikirnya, mba Rahmi ga ditanya mungkin karena kasirnya males nanya, kalo nanya pun paling diiyain kayak yg udah2.
    Tapi aku setuju opini mba Rahmi, kita harus memberantas korupsi, krn itu perlu ada transparansi dari pihak minimarketnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mba kalo yang didonasi itu selisih pembulatan mungkin udah umum ya. Lha itu masalahnya diatas langsung ditulis donasi, diitung bareng belanjaan. Setelah itu ditotal masih dibulatkan lagi, dan itu selisihnya ntah buat apa juga.

      Hapus
  2. sampai saat ini belum pernah saya lihat atau saya dengar pertanggung jawaban donasi-donasi itu. Dapetnya berapa dalam kurun berapa bulan/tahun dipakai buat apa sisanya berapa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya harusnya ada laporannya ya mas kalo memang disumbangkan, biar transparan

      Hapus
  3. Aku si selama disumbangin ke tempat yg jls ga apa2..hari gini cri duit 50 perak angel lo..makanya aku suka tanya ni duit disumbangin kmn?

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya mak, kita perlu dan berhak tahu

      Hapus
  4. iya sering pisan itu, besok-besok aku coba ngeh dech kalau belanja di minimarket

    BalasHapus
    Balasan
    1. paling ngga biar mereka tidak menyepelekan hak konsumen, meski kasir cuma menjalankan kebijakan perusahaan

      Hapus
  5. minimarket yang kayak gitu, kalo dituntut bisa kena denda. Saya nggak inget pasal berapanya, tapi bisa didenda sampai 1 M. Saya juga pernah pas lihat struk belanja udah ada tulisan untuk donasi 50 rupiah, tapi nggak bilang2, kalo mau menuntut... buat bayar pengacaranya yang nggak ada. wuaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. hm kalo ngadun ke YLKI mungkin bisa mak, ga perlu bayar pengacara :D

      Hapus
  6. Saya sih setuju sama minta kembaliannya Mba. Memang untuk memberantas mental korupsi!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup kadang kita agak malu, mosok cuma segitu aja diminta ya, tapi ini maslaah pembentukan mental bangsa *aihh ngomong apaan aku iniih :p

      Hapus
  7. korupsi itu dari hal yang kecil kan ya, mbaaak ... :)
    saya juga masih sering minta kembalian saya walau cuma 100-200. salah sendiri udah gak pernah nanya, "mau disumbangkan?"

    BalasHapus
  8. waaah keren ya bs jd headline di blogdetik. nyebelin emang soal uang kembalian yang berubah menjadi "amal", permen, bahkan tidak dikasih gara2 nggak ada logam uangnya. heranku, kalau memang di harga barang ada tambahan rp10, 20, 30 dst, kenapa mata uang rupiah paling kecil cuma 100? eh logam rp25 atau 50 masih ada nggak sih? kalau dollar kan masih ada cent, dan biarpun kembalian 1 cent ya tetep dikembalikan. *tepok jidat*

    BalasHapus
  9. Kalo belanja di A*****, begitu dia ga kasih kembalian, langsung aja aku kasih feedback 'Tidak Puas' Mak :D *di layar monitor total belanjaan kita itu lho..

    BalasHapus