Senin, 15 Februari 2016

Menghargai Pilihan Anak

Pasti pernah lihat dong, ada seseorang yang minatnya gambar tapi kuliahnya di jurusan akuntansi. Atau yang kuliah sampe lebih tujuh tahun ngga lulus-lulus, pas ditanya katanya karena ngga suka dengan jurusan yang diambilnya. Loh kenapa ngga dari awal mengambil jurusan yang disukai?

"Orang tua saya yang memilihkan jurusan kuliah ini untuk saya, dan saya tidak bisa menolaknya."

Ya saya pernah punya teman yang berada di posisi seperti itu. Seketika itu juga saya berjanji, kelak jika saya punya anak, saya ingin memberikannya kebebasan menjadi apapun selagi itu baik.

Menghargai pilihan anak. Ya sudah selayaknya itulah yang harus dilakukan orang tua. Orang tua hanya berperan mengarahkan, membimbing, memfasilitasi. Tapi ingin jadi apa mereka kelak, kepuusan ada di tangan mereka.

Ngga perlu menunggu sampai mereka besar. Menghargai pilihan anak bisa kita latih sedini mungkin. Dari hal sepele saja, ketika anak sudah punya pilihan untuk busana yang ingn ia kenakan sehari-hari misalnya.

Saat anak bayi, apapun yang kita kenakan pada anak, ia pasti akan menurut, ngga bakalan protes. Tapi tunggulah sampai ia berumur setahunan, ia mulai bisa memilih mana yang ia suka, mana yang ingin ia kenakan, dan mana yang tidak.

Seperti duo bocah Thifa dan Hana saat ini. Seusai mandi ak jarang dia menolak pakaian yang saya sodorkan pada mereka. "Emoh ini, elek!" kata Hana.

Akhirnya saya biarkan ia memilih mana yang ingin ia pakai. Tak jarang ia memilih pakaian yang tak matching, atau pakaian yang udah gembel padahal kami mau pergi jalan-jalan ke mall.
Biasanya saya akan membujuknya, "Dek yang ini pasanganya sama yang ini aja ya.. " atau "Ih yang ini udah ngga bagus loh dek, Udah mbladus gini, Kita kan mau ke mall, pakai yang ini aja, cantik." Loh katanya membebaskan kok malah dibujuk pakai yang lain sih. Iya bener membebaskan, tapi sebagai orang tua kita tetep wajib mengarahkan supaya mereka ngga salah pilih kan.

Pernah juga nih pada saat kondangan nikahan, duo bocah udah dibikinin baju yang kembar sama nenek dan kakeknya, tapi Thifa ngga mau pakai karena katanya gatal pakai baju itu. Jadi baju itu ada bahan brokatnya. Thifa kan kulitnya sensitif kena begitu sedikit langsung gatel-gatel. Dia bersikukuh ngga mau pakai baju itu, dan memilih baju lain yang sebenarnya bagus juga, hanya saja ngga jadi kembaran sama neneknya.

Akhirnya saya pun membiarkannya dengan baju pilihannya. Yang terpenting baju itu pantas dikenakan saat kondangan, soal kembaran atau ngga itu ngga terlalu penting kan. Daripada saya memaksa dia memakai baju kembaran tapi sepanjang acara dia ngga nyaman.

gagal kembaran di acara nikahan

Bagaimana saat anak belum bisa menentukan pilihan sendiri, saat ia masih bayi? Tentu saja kita yang memilihkannya. Jangan smebarang memilihkan pakaian ya. Mentang-mentang masih kecil udah biarin aja pakai pakaian yang seksi-seksi, kan lucu. Jangan, menurut saya sih ini saatnya kita menanamkan nilai pada mereka, menanamkan rasa malu kalau menggunakan pakaian yang terlalu mini, karena akan me jadi pembiasaan di kedepannya nanti.

Ada cerita menarik nih dari teman saya Astin Astanti. Anaknya Faiz, sempat hanya suka mengenakan baju warna merah. Kalau dibelikan baju dan disuruh memilih ia pasti selalu memilih warna merah. Usut punya usut Astin memang seringkali memilihkan baju warna merah sewaktu Faiz masih bayi. Dugaan Astin sih karena itulah anaknya kemudian hanya mau memakai baju warna merah meski di lemarinya ada juga beberapa baju warna lain. Akhirnya sedikit demi sedikit Astin mulai mengenalkan Faiz dengan warna-warna lain, pelan-pelan memebritahu bahwa ada warna lain juga yang bagus dikenakan Faiz selalin warna merah. Sehingga sekarang Faiz mau mengenakan warna lain selain merah.

Nah dari situ ada pelajaran yang saya petik bahwa perlakuan kita saat bayi kepada anak-anak, akan menjadi pembiasaan saat anak besar nanti dan mulai bisa menentukan pilihan sendiri. Oleh karena itu sedini mungkin mari kita mulai kebiasaan baik untuk anak-anak kita, salah satunya membiasakan mengenakan pakaian yang baik dan sopan.

Sebagai orang tua sudah sewajibnya kita menghargai pilihan anak, tapi jangan lupa untuk membimbing dan mengarahkan agar mereka tak salah dalam memilih.

twitter: @rahmiaziza
IG       : @rahmi.aziza

8 komentar:

  1. Iya bener. Bahkan apa yang kita ajarkan terus menerus pada bayi itu kadang kelak menjadi cita cita atau hobbi dia kelak

    BalasHapus
  2. Sejauh ini soal warna baju Ghifa saya pilihkan berbagai warna mbak. Mungkin modelnya saja yg hampir semuanya putungan. Karena ghifa itu sensitif banget kulitnya. Keringatan sedikit esok harinya langsung deh kena biang keringat.

    BalasHapus
  3. wah,makasih mak sharingnya...mulai diterapkan nih,mumpung debay masih bayi hehe

    BalasHapus
  4. anakjuga manusia punya hak untk memilih (bacanya pakai nada lagunya rocker juga manusia ya heheh)

    BalasHapus
  5. Duuuh gagal kembaran sama nenek ya? hehee...Faiz juga gitu, ada baju yang bikin gatel, dia gak mau pakai..tapi seringnya karena ada label pakaian di dekat leher itu...tapi setelah digunting dia, mau kok. Hehee, makasih ya mami mi, salam buat Thifa dan Hana

    BalasHapus
  6. Iya betul mba, memang sebaiknya orang tua itu demokratis. hehe

    BalasHapus
  7. Betul sekali mbak saya sepakat...
    Saya juga kuliah salah jurusan. Bukan karena disuruh ortu masuk ke akuntansi sih..tapi waktu itu sya yakin sya bsa di bidang akuntansi. Ternyata its not my passion at all.

    Saya setuju bgt dengan tidak memaksakan sebuah pilihan kepada anak. Yang terpenting adalah anak nyaman dengan pilihan yg diambil. Postingan ini mengajarkan bagaimana cara mengambil keputusan bagi anak2...

    BalasHapus
  8. butuh latihan lama jadi ortu yang bisa menghargai pilihan anak... sejauh ini kami masih belum berhasil nih.
    Nice share mba... menjadi inspirasi ut kami.

    btw. ijin gabung blognya yah

    BalasHapus