Jumat, 19 Februari 2016

Abah Ihsan: Tentang Pendidikan Bersuci dan Menjaga Pergaulan

Sabtu 6 Februari kemarin pertama kalinya saya ikut kopdar komunitas Home Schooling Muslim Nusantara (HSMN) Semarang.

Kopdar kali itu bukan hanya sekedar kumpul-kumpul biasa ada juga sesi sharing bersama Abah Ihsan Baihaqi temanya tentang pendidikan seks untuk anak dalam Islam. Free, kita hanya diminta membawa potluck aja bisa berupa snack, kue kering, brownies, buah, apa ajalah bebas. Sama menyiapkan infaq terbaik, seikhlasnya.

Awalnya ragu ikutan ngga ya. Saya kan pemalyu gituuu. Tapi karena ternyata temen-temen dari komunitas blogger dan penulis juga cukup banyak yang ikutan, dan dipanas-panasin temen, Kapan lagi loh ketemu Abah Ihsan." Akhirnya saya memantapkan diri untuk ikutan. Sementara anak-anak, ikut ayahnya ada acara jam-strip komik di mall Paragon.

Ini Abah Ihsan. Pinjam fotonya mba Hapsari

Ini beberapa poin yang saya catat dari sharing kemarin.

- Dalam hal pendidikan seks untuk anak, Abah Ihsan lebih suka menyebutnya dengan bersuci dan menjaga pergaulan. Kenapa? Karena jika hanya pendidikan seks saja, mengikuti yang sudah berkembang di dunia barat sana, fokusnya lebih banyak ke kesehatan reproduksi saja, terutama untuk menghindari penyakit menular seks. Nah kalau dalam Islam maka harus sepaket dengan adab pergaulan untuk menjauhkan diri dari zina.

-  Adab pergaulan meliputi: kesehatan reproduksi, Jannabah (haid dan mimpi basah), isti'dzan (meminta izin), dan hijab.

- Seks itu tabu? Anda setuju Abah Ihsan setuju. Bukan tidak boleh dibicarakan ya. Boleh saja dibicarakan, tapi pada tempatnya, alias tidak boleh diumbar ke sembarang orang.

- Sebelum mengenal lawan jenis anak wajib mengena dirinya sendiri. Termasuk mengenal tubuhnya kalau nanti tumbuh besar sampai meninggal.

- Seks itu alamiah. Maka wajar sebenarnya kalau anak penasaran dengan tubuh sendiri dan lawan jenis. Oleh karena itu orang tua harus mengarahkan, jangan sampai dia mencari sendri dan salah dalam memahaminya.

- Usia 0-7 tahun adalah masa pengenalan jenis kelamin

- Sejak mulai bisa diajak bicara ajarkan anak memiliki rasa malu. Malu jika auratnya dilihat orang lain, dll.

- Mulai usia dua tahun, usahakan jika membersihkan kemaluan anak seusai buang air harus sesuai dengan jenis kelamin. Anak perempuan dibersihkan oleh ibunya, anak laki-laki oleh ayahnya.

- Usia 7 tahun anak harus bisa cebok sendiri. Karena bila masih dibantu orang lain, dikhawatirkan anak sudah mempunyai perasaan nyaman sehingga berakibat tidak baik. Bahkan di suia ini anak tidak boleh disentuh bagian tubuhnya sekalipun oleh orangtuanya sendiri kecuali darurat seperti jika sedang sakit.

- Di usia tujuh tahun juga paling lambat anak harus diperkenalkan pakaian sesuai gendernya, anak perempuan mengenakan rok, laki-laki pakai celana. Mulai dipisah tempat tidurnya antara laki-laki dan perempuan. Jika anak sesama perempuan/laki-laki boleh sekamar, tapi harus beda tempat tidur. Orang tua wajib meminta izin jika masuk ke kamar anak, begitupun anak jika masuk ke kamar orang tua (isti'dzan)

- Tasyabbuh (menyerupai) lawan jenis itu HARAM. Jadi laki-laki tidak boleh menyerupai perempuan dan sebaliknya, meski buat lucu-lucuan!

- Sebelum usia sepuluh tahun (sebelum datang masanya) anak harus diberi tahu tentang haid dan mimpi basah termasuk cara bersuci.

- Soal hijab. Aurat laki-laki adalah dari pusar hingga lutut. Aurat perempuan seluruh badan kecuali muka dan tangan sampai pergelangan. Yang boleh melihat aurat keseluruhan hanyalah suami/istri dan bayi. Jadi kalo anak udah gedean, ngga bleh menunjukkan seluruh aurat. Paling ngga dari leher sampai lutut (bagi ibu) harus selaku tertutup meskipun di depan mahrom. Biasakan ada pemisahan antara laki-laki dan perempuan. Tidak menerima tamu dewasa di dalam rumah yang berlainan jenis kelamin jika tidak ada suami/istri.

Nah itu beberapa poin yang saya catet dari sharing bersama Abah Ihsan kemarin. Masih ada beberapa yang masih saya langgar. Misal, soal aurat itu, karena anak saya perempuan semua saya suka cuek aja ganti baju di depan mereka. *tutup muka*

Bagaimana denganmu temans?

twitter: @rahmiaziza
IG       : @rahmi.aziza

13 komentar:

  1. cara menjelaskannya menarik yah. Seperti pentingnya adab pergaulan, tidak hanya soal kesehatan reproduksi.

    nice share mba

    BalasHapus
  2. kalo ganti bbaju masih sering di depan anak (yg bungsu)..habis dia ngikut bundanya terus sih.. tapi alhamdulillah anak sulungku berjilbab tiap keluar rumah ataupun sekolah..

    BalasHapus
  3. Wah ilmunya bermanfaat neh, makasih ya Mbak Rahmi udah sharing.

    BalasHapus
  4. Waduh. Bentar lagi dah harus kelon pisah sama Ais. Aku masih suka cium2 punggungnya yang kecut je..haha

    BalasHapus
  5. ihiks...sama, saya juga masih gitu...*tutup muka juga

    BalasHapus
  6. wah seminggu lagi PAscal umurnya 10 jadi deg-degan ih

    BalasHapus
  7. Haduh saya masih banyak salahnya, Mbak. Soal buka aurat di depan anak, anak masih saya cebokin (umur 5,5 tahun), de el el... Makasih ya, Mbak, ilmunya. Saya catet ah :)

    BalasHapus
  8. Wah, penting banget ini. Kushare juga buat suami. Aku juga ada yg blm kulakukan. Soal bersuci baru wudhu doang.
    Makasih sharingnya.

    BalasHapus
  9. yeaay.. akhirnya kopdar juga ya mbak sama HSMN.. aku juga udah share soal ini di blognya Yukjos :)

    BalasHapus
  10. Pendidikan seperti ini memang harus mulai mendapat perhatian serius dari para orangtua.
    Godaan semakin menggila. Orang nggak senonoh juga makin bertambah.
    Salam hangat dari Jombang

    BalasHapus
  11. iyaaaa...mulai melepas anak (6,5 & 5,5 th) utk mandi sendiri. saya siapin penggosok punggung khusus, shampo yang mereka sukai, dibolehkan main air di KM asal terbatas.

    selanjutnya tinggal memisahkan mereka saat mandi. walau laki semua tapi mereka masih suka mandi bareng.

    BalasHapus
  12. setuju sama pendidikan dini, biar gede dikit anak tau yg mana yg tidak boleh, karena jmn sekarang banyak yang aneh2

    BalasHapus
  13. Wah, manfaat banget postingannya
    Makasih mba Rahmi :)

    BalasHapus