Rabu, 03 Desember 2014

Ibu, Kasih Nyata Meski Tanpa Kata

Kalau menceritakan tentang ibu, ada rasa lucu dan juga haru. Lucu, karena ibu emang orangnya kocak, adaa aja perkataannya yang bisa bikin kita ketawa ntah itu disengaja maupun tidak. Haru, karena jadinya kangen dan ngerasa belum bisa memberikan apa-apa pada ibu.

Ibu itu memang lucu, pernah suatu hari pas kami pulang kampung ke Sumatera. Anaknya sepupu pakai baju yang di dada bagian depan bertuliskan "ARMY". Ibu langsung nyeletuk. "Lho nama kamu Jefry kan?"

"Iya." Jawab si anak disertai tatapan bingung.

"Kok itu tulisannya Army?" Gubrak! Kami yang mendengarpun tak kuasa menahan tawa. Ibu kayaknya cocok nih ikutan audisi stand up comedy hahaha.

Di lain waktu ibu suka main tebak-tebakan aneh. Yaitu menebak "siapa yang adzan". Waktu itu kami masih tinggal di Makassar. Rumah kami cukup dekat dengan masjid, dan kami juga mengenal orang-orang masjid cukup dekat.

Tiap kali adzan berkumandang ibu selalu melontarkan pertanyaan, "Coba tebak itu suaranya siapa?" Kata ibu ketepatan mengenali suara bisa menjadi tolak ukur kecerdasan, hahaha ada-ada aja.

Suatu hari ibu melontarkan tebakan itu ke Papa. Papa yang lagi males main tebaktebakan menjawab, "Males jawab ah, buang-buang waktu."

Ibu kemudian mendebat Papa, "Coba kamu jawab aja Amir (salah satu nama muadzin) cuma dua suku kata, bandingkan dengan kalimat buang-buang waktu berapa suku kata coba? Lebih buang-buang waktu mana?" Hahaha saya yang denger ngakak sejadi-jadinya.

Begitulah ibu. Seringkali saya kalo sedang stress minta ibu menceritakan sesuatu supaya saya bisa tertawa.

Bareng Ibu di rumah Bude di Sumut

Tapi ibu bukan orang yang romantis. Baik itu terhadap Papa maupun terhadap anak-anaknya. Saya tak pernah mendengar ibu mengucap kata sayang pada saya. Tapi saya tahu kasih ibu nyata, meski tanpa kata.

Sampai saat ini, anaknya sudah dewasa, menikah, dan mempunyai anak. Kasih ibu tetap terasa begitu hangat. Tiap kali saya pulang Kudus misalnya. Pada saat hendak kembali ke Semarang ibu tak lupa memberi sangu, "Buat jajan Thifa," begitu katanya. 

Yang lebih mengharukan lagi, sewaktu saya habis melahirkan Thifa. Ibu datang ke Semarang bersama kakak kedua. Ngebis dan ngangkot karena waktu itu belum punya kendaraan sendiri. Katanya mau memberikan topi buat Thifa biar tidak kedinginan. Saya tahu itu hanya sekadar alasan saja. Sebenarnya Ibu kangen pada anak dan cucunya. Topi seperti itu juga banyak di Semarang, sebenarnya tak perlu repot-repot Ibu datang membawakan. Tapi ya itulah Ibu. Kasih nyata meski tanpa kata.

Salah satu cita-cita saya sekarang adalah membahagiakan Ibu. Apa yang bisa membahagiakan Ibu? Sebenarnya bahagia Ibu cukup sederhana. Kami menjadi anak yang solehah, berbakti, dan mendidik keturunan kami dengan baik, itulah kebahagiaan Ibu. Tapi saya merasa itu masih kurang. Saya juga ingin memberikan sesuatu yang bersifat materil pada Ibu dan Papa, misalnya ngajak mereka jalan-jalan. Karena sampai saat ini yang masih sering memberi adalah mereka. Duh jadi malu. Saya akui secara finansial, saya masih belum semapan mereka.

Saya tahu Ibu memberi tak harap kembali, tapi jika saya bisa memberi, pasti ini menjadi kebahagiaan tersendiri juga bagi Ibu. Bukan karena nilai fisiknya, tapi kesenangan ibu lebih kepada perasaan lega. "Sekarang anakku sudah mapan perekonomiannya, sehingga bisa membelikan orangtuanya sesuatu."

Ya Alloh berilah kami kesempatan dan kemampuan untuk bisa memberikan sesuatu pada Ibu. Aamiin.

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Hati Ibu Seluas Samudera

18 komentar:

  1. Ibu memang tak mengharap balasan dari anak2nya ya mba.

    Btw jgn2 sifat lucunya mba rahmi nurun dari ibu nih :)

    BalasHapus
  2. Aduh Mi, aku belum ada ide nih. Kalau tulisan melow aku ga bisa, tulisan lucu sudah kamu ceritakan. Lepas aja ah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hampir pas aku tadinya, tiba2 dape ide :D

      Hapus
  3. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan : Hati Ibu Seluas Samudera
    Segera didaftar
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  4. Sahabat tercinta,
    Saya mengucapkan terima kasih kepada para sahabat yang telah mengikuti Kontes Unggulan Hati Ibu Seluas Samudera di BlogCamp. Setelah membaca artikel peserta saya bermaksud menerbitkan seluruh artikel peserta menjadi buku.

    Untuk melengkapi naskah buku tersebut saya mohon bantuan sahabat untuk

    1. Mengirimkan profil Anda dalam bentuk narasi satu paragraf saja. Profil dapat dikirim melalui inbox di Facebook saya atau via email.
    2. Memberikan ijin kepada saya untuk mengumpulkan artikel peserta dan menerbitkannya menjadi buku. Cek email dari saya tentang permintaan ijin ini dan silahkan dibalas.
    3. Bergabung dengan Grup Penulis Naskah Buku Hati Ibu Seluas Samudera di Facebook. (https://www.facebook.com/groups/669571076492059/)

    Terima kasih.

    BalasHapus
  5. kasih ibu emang luar biasa ya..
    good luck buat kontesnya!

    BalasHapus
  6. ibunya mbak rahmi bener2 ibu yg hebat...sungkem buat ibu ya mbak

    BalasHapus
  7. Aamiin, semoga kita bisa menjadi anak2 yg bisa membahagiakan org tua, ya mbak :)
    salam buat ibumu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mudah2an masih diberi kesempatan mel :)

      Hapus
  8. hehehe kocak ibunya, Mak. Sekarang nurun ke Mak Rahmi kocaknya, ya. Sampe bikin komik :D

    BalasHapus
  9. Salam hormat untuk Ibu dan mbak Rahmi sekeluarga, semoga selalu diberikan kesehatan.
    Nulis tentang Ibu, mberebes mili aku mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ikutan juga GA nya pakdhe kan mas

      Hapus
  10. hehe.. ibunya lucu mbak ^_^
    Salam kenal, salam sama ibunya. Semoga kontesnya juga menang. Amin
    Blognya saya follow ya, kalau berkenan follow balik :)

    BalasHapus