Minggu, 31 Agustus 2014

Mengejar Rumah Impian

Dari dulu saya selalu terkesima kalau melihat rumah yang punya halaman luas. Saya lalu memandang berlama-lama kemudian membatin, “Ini nih, rumah idaman saya.”

Ngga banyak lho rumah seperti itu. Kebanyakan rumah sedikit sekali menyisakan ruang hijau. Keterbatasan lahan membuat si pemilik lebih mementingkan menambah bangunan daripada membiarkannya berupa tanah yang siap ditanami tumbuh-tumbuhan.

Rumah mungil dengan halaman yang luas. Kalau sudah berkeluarga nanti saya harus punya rumah seperti itu. Begitu pikiran saya waktu masih lajang. Saya membayangkan akan menanam bunga-bunga, sayuran juga buah-buahan di taman itu supaya kalo butuh, ngga perlu beli di pasar. Kalau perlu saya ikut jualan hihihi.

Dalam imajinasi saya, nanti anak-anak bisa bermain dengan bebas di halaman itu. Mengejar-ngejar kucing dan kelinci, sesekali mungkin kami akan mendirikan tenda dan main kemah-kemahan.


Lalu kenapa rumahnya harus mungil. Biar ngga repot bersihinnya hehe..

Rumah mungil dengan halaman yang luas. Itu memang jadi mimpi saya, dulu... Setelah berkeluarga dan punya dua anak, saya sedikit merevisi mimpi saya. Saya ingin punya bangunan rumah yang rada gedean. Manusia emang seringkali begitu ya, merasa kurang dan kurang.

Rumah idaman. Rumah siapa nih, pinjem gambarnya yaa. sumber gambar


Ya, jujur saya merasa kurang kalau rumah yang saya miliki hanya bisa menjadi tempat bernaung bagi keluarga saya. Saya ingin lebih. Saya ingin rumah saya bukan hanya bermanfaat bagi keluarga saya, tapi juga orang banyak.

Saya memimpikan ada satu bagian dalam rumah yang saya jadikan semacam rumah belajar dan bermain bagi anak-anak, terutama anak yang tidak mampu. Nantinya ruangan itu akan saya isi dengan buku maupun mainan anak-anak. Tiap hari mereka bisa datang. Saya juga mengundang teman-teman yang mau menyumbangkan ilmunya dengan sukarela untuk mengisi kelas di situ. Misalnya kelas membaca, mengaji, menggambar, merajut, dan sebagainya.

Saya ingin punya garasi yang luas. Selain menjadi tempat parkir kendaraan yang saya miliki. Garasi tersebut sewaktu-waktu bisa digunakan untuk mengadakan berbagai acara, seperti halal bihalal atau pertemuan RW. 

Soalnya selama ini banyak warga yang suka berebutan menolak sih kalau rumahnya diminta jadi tempat pertemuan RW. Termasuk saya. Ya emang ngga memungkinkan menampung banyak orang sih rumahnya  hehehe.

Lah terus kalau bangunannya seluas itu, lahan kosongnya habis dong? Ya ngga, pengennya sih tetep menyisakan halaman yang luas. Hihi dasar banyak maunya. Ya gapapalah, namanya juga mimpi dan harapan. Mustahil? Ngga dong! Ingat kalkulator manusia beda dengan kalkulator Tuhan. Segala yang tidak mungkin menurut kalkulasi kita bisa jadi mungkin jika Tuhan yang menghendaki. *Glek!  habis kerasukan apa eykeh ngomong bijak gini. Hihi.

Biasanya tiap RT, harus punya lahan untuk ditanami TOGA (tanaman Obat keluarga). Kalau memang dibutuhkan,  silakan gunakan halaman saya.

Halaman belakang sebagian ingin saya gunakan sebagai tempat pengolahan sampah organik. Sebenarnya sudah sejak lama pihak RW menyediakan bak takakura bagi RT yang ingin mengolah sampah anorganiknya untuk dijadikan pupuk. Mereka juga bersedia memberikan pelatihan. Saya sendiri sangat tertarik, tapi apa daya saya tak punya tempat  untuk menyimpannya. Rumah yang mini sudah penuh dengan barang-barang begitupun halaman yang sempit, untuk tempat bermain anak saja rasanya kurang.


keranjang takakura yang siap diisi sampah organik, sumber gambar

Sepertinya rata-rata wargapun punya masalah yang sama dengan saya, sehingga keranjang takaklura banyak yang akhirnya nganggur karena tak ada yang mau menampung.

Ah seandainya saya punya halaman yang luas. Akan saya tampung keranjang-keranjang itu. Akan saya tampung pula sampah organik ibu-ibu. Kita buat kompos bareng-bareng ya bu. Siapapun boleh memanfaatkan kompos, atau kalau perlu kita jual dan hasilnya bisa buat nambah koleksi buku dan mainan di rumah belajar.

Saat ini saya baru mampu memiliki rumah yang serba minimalis. Bangunan maupun halaman sama-sama mini heheh. Tapi kami tetap bersyukur, sambil terus berihktiar  menabung demi mendapatkan rumah impian kami. Rumah yang besar dengan halaman yang luas. Agar kelak rumah itu bukan hanya bisa menaungi keluarga saya, tapi juga mendatangkan manfaat bagi orang banyak.

Baru bisa punya rumah kayak gini. Alhamdulillah...

Bantu kami mewujudkan mimpi-mimpi kami Ya Alloh...

Bagaimana dengan mimpimu teman? tulis dan kita aminkan bersama yuk. Sekalian ikut lomba blog mimpiproperti.com.




11 komentar:

  1. Amiiiiiin, semoga impiannya segera terwujud Mba Rahmi. Pasti menyenangkan anak-anak bisa belajar di halaman depan sementara kita bisa berkegiatan yang menghasilkan di belakang. impian banget itu. Sukses ya Mba kontesnya.

    BalasHapus
  2. Rumah impiannya bagus...sama impianku juga punya rumah hijau dan luas.

    BalasHapus
  3. eike malah belum punya rumah, ihiks

    BalasHapus
  4. Good luck sama kontes nya..

    BalasHapus
  5. kalau aku gak kepingin punya rumah tingkat mbak, sama alasannya supaya gak cape bersihin turun naik :)

    BalasHapus
  6. Rumah dengan halaman luas memang mengasyikkan karena bisa kita manfaatkan untuk aneka kegiatan.
    Semoga berjaya dalam lomba
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  7. Good luck ya mak. Rumah impiannya awwww... banget deh :-)

    BalasHapus
  8. semoga rumah impiannya bisa terwujud mak

    BalasHapus
  9. smoga terwujud ya rumah impiannya dan sukses ngontesnya

    BalasHapus
  10. Semoga terwujud mak.
    Harapan & impian itulah yang membuat kita terus bersemangat ya :)

    BalasHapus
  11. semoga rumah impiannya bisa terwujud mak

    BalasHapus