Selasa, 06 November 2012

Menjadi Orangtua itu Harus Ikhlas


Apa sih yang paling diharapkan sepasang suami istri (khususnya di Indonesia) setelah menikah? Rumah,? Mobil? Atau… perhiasan sak gunung?

Berdasarkan penelitian kecil-kecilan yang saya lakukan,  jawaban dari pertanyaan di atas adalah anak. Ya meskipun ada yang memang dengan sengaja menunda, tapi itu jumlahnya ngga seberapa.

Coba deh perhatikan pertanyaan yang diajukan orang-orang ketika bertemu sepasang suami istri. “Anaknya udah berapa?” Ngga pernah rasanya saya menemui pertanyaan “Udah punya rumah berapa?”

Saking berartinya kehadiran buah hati, sampe nemu sederet quote manis tentang anak yang kayaknya keren deh kalo dijadiin status fesbuk seperti:


Anak-anak adalah tangan yang dengannya kita memegang surga – Henry Ward Beecher

Anak-anak benar-benar menerangi rumah tangga, mereka tidak pernah mematikan lampu - Ralph Bus

Anakkon hi do hamoraon di au (Anakku adalah kekayaanku, kebangganku) - kutipan lagu Batak

Anakku bukan anakku – eh yang ini sih judul sinetron, jadi lupakan sajalah ya!

Dulu, sebelum saya menikah, pernah ngobrol-ngobrol sama teman yang udah dua tahun menikah tapi masih belum dikaruniai momongan.

Si teman curhat, bahwa betapa dia sangat menginginkan kehadiran seorang anak. Apalagi melihat teman-teman yang menikahnya lebih baru dari dia sudah punya anak, orang-orang seringkali bertanya tentang anak terutama ibunya pernah bilang berharap bisa segera mendapat cucu.

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu) (At-Taghabun: 15)

Saya menemukan ayat itu di Al-Qur’an untuk menjawab kegundahan hati teman saya. Bagi dia, belum dikaruniai anak adalah ujian, tapi sesungguhnya anak sendiri adalah ujian bagi orang tuanya. Anak bisa jadi membuat orangtua lalai kepada Alloh. Atau mungkin orangtua yang sudah dikaruniai anak ternyata tidak bisa merawat dan mendidik anak-anak mereka dengan baik. Naudzubillah… Jadi ada atau tidaknya anak sama-sama merupakan ujian kan.

Tapi sebenarnya, perkara belum dikaruniainya momongan ternyata tidak terlalu masalah bagi dia dan suami, yang membuat itu jadi masalah adalah tuntutan dan harapan orang-orang di sekililingnya.

Setelah berumah tangga sayapun merasakan hal yang sama dengan teman saya. Saya merasa terganggu dengan pertanyaan orang, “Kapan mau punya anak?” Menurut saya ini pertanyaan yang aneh. Rasanya pengen menjawab, “Tanya aja sama Tuhan.” Hehehe.  Tapi kata suami, anggap aja itu sebuah doa.

Delapan bulan setelah menikah saya hamil, tapi sepuluh minggu kemudian harus kuret karena janin tidak berkembang.

Baru setahun setelah itu saya hamil lagi, dan akhirnya lahirlah Thifa. Selama penantian kehamilan yang kedua, saya merenung. Tidak benar kalau saya pengen punya anak karena orang lain. Karena melihat teman yang menikahnya baru kok lebih cepat hamilnya. Kalo ini yang terjadi, berarti keinginan saya hanya sekedar egoisme belaka untuk menununjukkan “Ini loh, saya sudah nikah dan akhirnya punya anak kan.”

Saya harus meluruskan niat, semuanya Lillahi Ta’ala.

Soal harapan untuk anak ya mungkin sama seperti orang tua lain. Pasti ingin anaknya menjadi sholeh sholehah, sehat, cerdas, dan bahagia. Tapi sebelum meminta itu pada Tuhan saya lebih dulu memohon agar dipantaskan menjadi orangtua. Saya ingin bisa menjadi panutan bagi mereka, karena seperti kata bijak “Anak-anak memang tidak begitu baik dalam mendengar nasehat orang tua, tapi tidak pernah gagal dalam meniru mereka.” - James Arthur Baldwin

Kita sebagai orangtua pasti mengharapkan yang terbaik untuk anak. Tapi bagi saya anak bukan investasi. Ada loh  orang yang punya pikiran menyekolahkan anak di tempat terbaik bahkan termahal dengan harapan jika sukses nanti bisa membantu perekonomian orang tua atau membiayai sekolah adik-adiknya.

Menjadi Orangtua itu harus ikhlas. Membiayai anak sudah kewajiban orang tua dan memberikan yang terbaik untuk anak harus benar-benar tulus untuk kebahagiaan anak itu sendiri. Tidak jarang kan kita lihat orang tua yang memaksakan anaknya harus bisa ini bisa itu, padahal si anak sama sekali tidak menikmati malah justru tertekan.

Ah jadi teringat lagu anak-anak yang masih saya hafal sampai sekarang…

“Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia”

Saya ingin jadi ibu yang seperti itu :D



Wellcome to the world baby Fatimah, tulisan ini dibuat untuk meramaikan #FFFStories (Fatimah’s Friendship Forever). Semoga berkenan ya mba Mubarika :)

10 komentar:

  1. itu mbak rahmi pas habis lahirin dedek tifa jadi gendut bgt,,,,

    anak itu titipan mbak.....berbahagialah bagi mereka yang mendapatkan amanah dari tuhan berupa seorang anak...

    aku jadi pengen juga cepet punya anak >_<

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya.. sekarang udah langsing lagi kan...

      Pengen cepet punya anak? cari bapake dulu oh yaaa :D

      Hapus
  2. saya pasangan muda dan baru punya anak
    dituntut belajar jadi orang tua yg baik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama2 pasanagn muda.. sama2 belajar kita ya mas Achoey...

      Hapus
  3. Amiiiin mbak :)
    PAsti dirimu akan menjadi ibu yang luar biasa baik, niatnya aja sudah baik.

    BalasHapus
  4. Dari Abu Hurairah ra, ia menceritakan, suatu hari ada seorang yang datang kepada Nabi Muhammad SAW seraya bertanya: "Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling berhak saya perlakukan dengan baik?" Rasulullah menjawab: "Ibumu!" Orang itu bertanya lagi: "Lalu siapa?" "Ibumu!" jawab Beliau. "Lalu siapa lagi, ya Rasulullah?" tanya orang itu. Beliaupun menjawab "Ibumu!" Selanjutnya orang itu bertanya lagi: "Lalu siapa?" Belia menjawab: "Ayahmu." (Muttafaqun ‘Alaih).

    BalasHapus
  5. Pertama menikah dulu, harapan utama saya juga anak Mbak..Dan ternyata tidak salah..Gak kebayang gimana kehidupan saya tanpa mereka :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. anak itu anugrah terindah yg pernah kita miliki ya mba.. kayak lagunya Sheila hehehe

      Hapus