Minggu, 18 November 2012

Bersama Masyarakat Memberantas Korupsi


Nonton berita di tv, korupsi lagi, korupsi lagi. Kapan negeri ini bebas dari korupsi ya? Kenapa korupsi susah diberantas? Belum lagi satu kasus selesai, sudah muncul kasus yang lain. Apa mungkin, karena sebagian dari kita membiasakan diri dengan gaya hidup korup dalam kesehariannya?

Siapakah koruptor itu? Bercerminlah, jangan-jangan koruptor itu adalah diri kita sendiri.

Teman saya semasa SMA dulu, pernah minta uang beli buku ke orang tuanya sebesar Rp.15.000,- padahal harga sebenarnya Rp.12.500,-. Kenapa ngga jujur aja sih, minta uang lebih untuk jajan?

Pernah juga saya cerita di blog ini. Waktu bayar Pajak Bumi dan Bangunan, yang tertera di slip tagihan hanya tertulis Rp.45.308, tapi petugasnya bilang yang harus dibayar Rp.46.000. Halah Mie, cuma tujuh ratus rupiah aja. Bukan masalah jumlah. Sekarang sih memang baru dapat kesempatan sejumlah tujuh ratus rupiah, bukan tidak mungkin besok saat posisinya udah diatas, jadi tujuh ratus juta kan.

Soal genap menggenapkan tanpa ijin juga pernah saya alami saat membayar pajak kendaraan dan uang masuk peron terminal. Makanya sekarang saya antisipasi dengan menyiapkan uang pas, ngga mau memberi kesempatan orang berbuat dosa.

Kalau menemui hal-hal seperti tadi itu, rasanya gemas pengen melaporkan, tapi kemana? Apakah akan ditindaklanjuti jika saya melapor? Apakah tidak menimbulkan masalah baru bagi saya nantinya? Selalu ada kecemasan-kecemasan seperti ini.

Cikal bakal korupsi saya rasakan juga ketika beli gorengan di pasar. Katanya harga gorengan satu, enam ratus rupiah, tapi beli tiga kok jadi dua ribu? Pas komplain ke penjualnya, dengan tanpa dosa dia bilang “Iya to, kan dibulatkan.” Bagaimana coba kalau seandainya, suatu hari nanti dia menjadi pejabat pemerintahan, dan sikap seperti ini sudah mendarah daging dalam dirinya.

Korupsi ternyata ada di sekitar kita kan, tapi apakah yang seperti ini terjamah juga oleh KPK?

Seandainya saya yang jadi ketua KPK, tentu saja saya akan menjalankan amanah masyarakat dengan melakukan pemberantasan korupsi sampai tuntas tanpa pandang bulu.

Tapi ingat, korupsi bukan hanya yang menyentuh jumlah milyaran atau triliunan rupiah. Sekecil apapun tetap korupsi namanya. Karena yang kecil ini jika dibiarkan akan menjadi besar.

Jika saya yang jadi ketua KPK, saya akan mengajak masyarakat untuk memberantas korupsi bersama-sama. Bekerjasama dengan sekolah-sekolah dan lembaga keagamaan untuk mendidik kejujuran pada anak-anak sedari kecil.

Saya akan membuka pos pengaduan masyarakat khusus korupsi. Sehingga masyarakat merasa aman dan nyaman ketika melaporkan tindak korupsi yang mereka saksikan sendiri. Tidak lupa juga mengedukasi mereka bagaimana membuat alat bukti sederhana, dengan rekaman handphone misalnya.

Menjadi ketua KPK hanya pengandaian saja, sebenarnya yang saya tulis tadi adalah harapan saya untuk pimpinan KPK saat ini. Ya saya tidak sungguh-sungguh ingin jadi ketua KPK, tapi sebagai masyarakat awam, saya sungguh-sungguh ingin membantu KPK dalam hal pemberantasan korupsi. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Dengan bahu-membahu Insya Allah, Indonesia bersih akan lebih mudah tewujud.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog bertema "Andai Aku Menjadi Ketua KPK" 

8 komentar:

  1. semoga bisa ya bun
    toh perubahan itukan dimulai dari hal terkecil hehehe
    semangat bunda kita berantas korupsi (kecil-kecilan dulu)
    hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang kecil kalo dibiarin lama2 jadi gede, tambah sulit memberantasnya ntar :D

      Hapus
  2. negeri yang aneh? koruptor sebenarnya karena latah atau apa ya? ok mba ketua kpk, semua berawal dari hal kecil, semoga anak-anak kita yang masih balita ini bermoral lebih baik dan jauh dari pengaruh budaya kurupsi sekarang..next 20 tahun lagi, semoga indonesia sudah lupa dgn korupsi dah...amin, semoga menang ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin, kalo ngga jadi ketua KPK untuk Indonesia paling ngga untuk rumah tangga kita sndiri ya mba

      Hapus
  3. Ck ck ck kalo asalan dibulatkan kan ada pembulatan ke bawah ya mbak?

    Mudah2an menang ya mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. lebih aman gt ya mba, biar ga makan uang haram hehehe

      Hapus
  4. Lho? Kok nggak pengin jadi ketua KPK? Mungkin bagus lo kalau dipimpin seorang yg keibuan. Pada manut gitu heheheheee....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngga ah mak, pengen jd presiden aja :p

      Hapus